Tantangan studi Ph.D. di luar negeri

Hari ini tepat 1 tahun saya menempuh studi Ph.D. di UNSW Australia. JIka pada beberapa posting sebelumnya saya menceritakan manfaat dan keuntungannya, posting kali ini akan membahas kesulitan tantangan yang saya hadapi saat menempuh studi di Australia. Berikut ini beberapa pengamatan subyektif saya (yang tentunya akan berbeda dengan orang lain).

phdLatar belakang jurusan, scientific background

Di UNSW saya mengambil jurusan Computer Science & Engineering, padahal S1 dan S2 saya dari jurusan Teknik Elektro, peminatan Teknik Sistem Pengaturan. Saya “berpindah” jurusan, karena di bidang riset saya tentang robotika, trend penelitian mengarah pada penerapan algoritma machine learning pada robot cerdas.

Mulanya saya berpikir, asal saya disiplin belajar mandiri, membaca buku dan mengikuti kuliah, pasti semuanya berjalan lancar. Kenyataannya tidak semudah itu. Perlu waktu yang cukup lama untuk memahami suatu bidang ilmu dengan mendalam. Juga perlu perubahan paradigma besar – besaran untuk menganalisa suatu masalah, jika selama belasan tahun saya melihat masalah dari suatu sisi, sekarang saya harus bisa melihatnya dari sisi yang lain.

Bagaimana untuk bisa memahami bidang ilmu yang baru? Kuncinya hanya satu. Belajar mandiri dengan keras. There is no shortcut. Studi lanjut di luar negeri tidak akan membuat kita pintar dengan sendirinya. Tidak akan ada Profesor (atau teman) yang akan dengan leluasa memberikan waktunya untuk kita untuk mengajari kita bidang ilmu tersebut. Saya menggunakan uang buku dari beasiswa Dikti untuk membeli literatur yang diperlukan (akhirnya uang buku 3 tahun habis di tahun pertama 🙂 ).

JIka demikian, apakah “pindah jurusan” sebaiknya tidak dilakukan? Jawabnya : belum tentu. Saat anda berpindah jurusan (yang tentunya masih segaris dalam konteks penelitian) dan bisa menguasai bidang ilmunya, anda akan memiliki pemahaman multi-disiplin! Hal ini akan sangat bermanfaat untuk memperkaya wawasan anda sebagai peneliti nantinya. So, decide it wisely.

Note : Hal ini tidak hanya dialami saat studi S3 di jurusan yang berbeda. Hampir semua mahasiswa Ph.D. akan mengalami kondisi “lack of knowledge” di beberapa bagian dari penelitiannya

Perasaan terisolasi – akademis

Ph.D. is a lonely journey“. Kalimat tersebut sering kali muncul di berbagai blog dan berita tentang studi Ph.D. Dan memang demikianlah adanya. Di antara banyak mahasiswa di kampus saya (bahkan mungkin di seluruh dunia), saya adalah satu – satunya orang yang perduli dengan topik penelitian saya secara spesifik. Profesor saya akan mengarahkan dan memberi masukan, namun beliau tidak akan mendalaminya seperti saya.

Natur studi Ph.D. inilah yang membuat mahasiswa Ph.D. sangat mudah merasa kesepian. Bahkan sekalipun anda memiliki banyak rekan di research group, teman – teman anda mungkin sekali tidak memahami dengan mendalam topik yang anda kerjakan. Jadi, bersiap – siaplah untuk merasa kesepian.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini ialah curiosity dan kecintaan yang mendalam akan topik riset anda. Ada orang yang menggambarkan peneliti ialah orang yang mempunyai burning question di dalam dirinya, dan orang itu tidak akan puas sebelum bisa menemukan jawabannya. Mungkin seperti itulah sikap mahasiswa Ph.D. seharusnya.

Perasaan terisolasi – non akademis

Selain secara akademis, sebagai mahasiswa asing kita juga akan mengalami perasaan terisolasi karena kita hidup di negara dengan bahasa, budaya, nilai – nilai, dan sistem yang berbeda dengan negara kita. Perlu waktu untuk feel at home dan terbiasa dengan semua hal baru tersebut. Keberadaan keluarga dan komunitas orang Indonesia akan sangat membantu anda melewati proses ini.

Budaya di suatu negara juga akan mempengaruhi bagaimana anda bekerja sama dengan  orang lain. Di jurusan saya misalnya, adalah hal yang wajar jika anda tidak mengenal semua orang yang berada di laboratorium yang sama (apalagi memahami topik penelitiannya). Padahal di indonesia, mungkin dalam waktu 1 minggu seorang mahasiswa baru akan mengenal semua penghuni laboratorium. Hal ini menurut saya terjadi karena budaya Australia yang lebih individualis dan fokus pada performa pribadi.

Hubungan dengan pembimbing

Hubungan dengan pembimbing ialah hal yang teramat penting bagi mahasiswa Ph.D. Saat anda menempuh studi S1 dan S2, anda hanya akan menghabiskan waktu 1 atau 2 semester dengan pembimbing anda. Sedang untuk studi S3 anda akan menghabisan 3 – 4 tahun dengan profesor anda. Bisa dibayangkan betapa beratnya jika hubungan dengan pembimbing tidak baik.

Di Australia, hubungan mahasiswa dengan dosen umumnya cukup cair. Mahasiswa biasa memanggil para dosen (sesenior apapun) dengan nama secara langsung. Tanpa tambahan “Pak” apalagi “Prof”. Namun demikian, bukan berarti mahasiswa boleh sembarangan. Profesor akan langsung menegur tanpa basa basi jika mahasiswa berbuat kesalahan.

Terkait dengan topik Ph.D., sangat penting bagi anda untuk menemukan profesor dengan topik yang benar – benar cocok dan anda sukai. Lebih baik sedari awal mencari profesor yang cocok dengan minat anda (dari kampus manapun), daripada anda memilih profesor terlebih dahulu dan “memaksakan” topik yang anda sukai pada profesor tersebut.

Ada beberapa alasan untuk itu. Yang pertama, mahasiswa Ph.D. ialah seperti “duta besar” bagi profesornya. Mahasiswa inilah yang akan membawa “tongkat estafet” penelitian dari profesor tersebut. Hal ini juga menguntungkan mahasiswa, karena dia bisa memanfaatkan nama besar (dan jaringan) profesornya di bidang tersebut. Jika anda mengusulkan judul sendiri yang berbeda dengan minat profesor, maka anda harus melakukan segala sesuatunya seorang diri. Selain itu, profesor kemungkinan merasa enggan (kurang bersemangat) karena membimbing bukan pada minat dan keahliannya.

Sebagaimana layaknya hubungan antara dua orang manusia biasa, tentunya selalu ada naik turun yang terjadi. Ada kalanya manis, tapi ada kalanya pahit dan berat. Mungkin inilah yang juga akan menempa kita sebagai manusia dewasa, bukan hanya sebagai mahasiswa. Saya pribadi belajar untuk tetap respect dan menjaga hubungan dengan profesor, meski beliau sering menegur saya dengan cukup keras (dan sakitnya tuh di sini 🙂 ).

Kendala bahasa

Kendala bahasa tentunya akan kita hadapi saat studi di luar negeri. Hal yang paling berat buat saya ialah menulis dalam bahasa Inggris dengan baik. Di Australia, tidak ada sidang lisan, sehingga examiner atau penguji hanya akan menerima tulisan (buku thesis) Ph.D. candidate. Jadi bisa dibayangkan apa akibatnya jika mereka menerima hasil tulisan yang kurang baik, dan tidak ada media lain untuk menjelaskan makna sebenarnya.

Saya pribadi merasa bahasa Inggris cukup baik, skor iBT lumayan, tapi tulisan saya banyak sekali dikoreksi oleh profesor saya karena salah atau kurang jelas. Beliau bahkan menyampaikan “your English is not good“, dst. Well, now I realize that my English is not as good as I think. Jadi tidak ada cara lain selain harus berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris secara akademis.

Sisi positifnya ialah dengan “dipaksa” untuk belajar menulis dengan baik, nantinya hal ini akan membantu saya saat harus melakukan publikasi ilmiah di jurnal internasional. Mungkin ini adalah investasi yang baik.

Note : profesor saya ialah orang Australia, beliau sangat senior dan menjadi editor untuk “Encyclopedia of Machine Learning”, jadi wajar saja kalau standar penulisan beliau tinggi 🙂

Adaptasi keluarga

Jika anda membawa keluarga, maka anda juga harus memastikan keluarga anda bisa beradapatasi dan “menikmati” kehidupan selama proses studi anda. Karena jika tidak, pada akhirnya studi anda juga akan terganggu. Untuk itu sangat baik jika pasangan (suami/istri) memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup sehingga nantinya bisa bersosialisasi dengan orang lain. Tempat tinggal yang layak, lokasi yang strategis (dekat tempat belanja, playground, sekolah, dll), dan hal – hal kecil lain harus dipertimbangkan. Saya akan menuliskan pengalaman di bagian ini pada posting yang lain.

Kecukupan finansial

Last but not least, kecukupan finansial sangat menunjang “ketenangan” anda selama studi. Jika anda masih single, tidak akan ada masalah dengan hal ini. Namun jika anda sudah menikah dan memiliki anak, anda harus menghitung baik – baik, apakah beasiswa yang anda terima cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga? Beberapa teman harus mengambil pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, yang tentunya mengambil energi mereka yang seharusnya digunakan untuk belajar. Tentunya semua orang akan mengambil keputusan sendiri, namun jangan sampai “mengorbankan” keluarga karena studi kita. They are much more precious than our Ph.D. degree.

Penutup

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca tulisan ini? Apakah masih ingin studi di luar negeri? Well, saya tidak ingin melemahkan semangat anda, namun saya ingin menyampaikan bahwa studi Ph.D. tidak cukup hanya berbekal “romantisme” belaka. Ini adalah petualangan hidup yang mendewasakan. Perlu semangat tinggi dan kerja keras. Lebih perlu lagi untuk berdoa dan berserah kepada Tuhan.

Bagaimana pendapat Anda?

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”

sumber gambar : http://chatwithrellypops.wordpress.com/2013/02/12/yes-there-is-life-after-phd/

Note : posting dengan topik serupa berikut (dari Thesis Whisperer blog) sangat cocok dan bermanfaat bagi international students

6 thoughts on “Tantangan studi Ph.D. di luar negeri

  1. Vita

    Mohon izin komen, hehehe… mohon izin juga saya memberanikan diri mengenalkan blog saya yg tdk mencerminkan blog seorang PhD candidate hahaha…
    Setuju sekali dan salut dg tulisan pak Handy, saya pun sdh ada niatan menuliskan kisah2 perjalanan saya menjadi bab2 seperti hal nya disertasi. Saya juga terpikir menulis mirip seperti pak Handy, bahwa perjalanan PhD itu benar2 tdk bisa diduga dan bisa saja kita salah strategi. Ini berdasar pengalaman saya yg memang tdk benar2 jeli memilih profesor (tidak seperti saat saya jeli mencari jodoh hahaha). Jadi ‘asal ada yg mau’, saya langsung iyakan. Begitupun saat ditawari topik tertentu, saya iyakan dg ekspektasi ‘jika topik dari pembimbing, kemungkinan besar akan lebih diperhatikan’…yang ternyata enggak sama sekali :D.

    Tantangan jadi lebih besar krn topik yg diajukan pembimbing ini juga sebenarnya bukan bidang beliau, diperparah dg interdisipliner. tentu ada jatuh bangun, ada masa2 saya sampai menangis bbrp kali, curhat ke suami, sampai anak saya bilang “ibu kenapa” dan saya jawab “nggak papa, pekerjaan ibu susah sekali.”. Tapi benar, kita tdk bisa mundur lagi. Topik saya yg terkait heat transfer sama sekali bukan bidang saya, pembimbing yg tdk terlalu memperhatikan membuat saya jadi terbiasa mengatasi tantangan2 sendiri. Saya hubungi dosen mesin unsw juga, 1-2x meeting, lalu dia mundur, saya hubungi dosen mesin its, pokoknya segala cara dan usaha saya lakukan, beserta doa..

    lama berkutat dg paper juga membuat saya semakin paham. 2 tahun sudah berlalu bagi saya dan saya bisa melihat perubahan diri saya yg lebih dewasa secara akademis. Cara saya membaca, memandang suatu masalah, menulis, menghadapi masalah, dll benar2 berbeda dari 2 thn yg lalu. Dan sekali lagi setuju dg tulisan pak Handy sebelumnya, saya jadi semakin dekat dan akrab dg Tuhan, karena Dia lah pemilik ilmu yg sedikit2 coba kita kupas ini pak…

    Salam, Ibunya temennya Joshe 😀

    Reply
  2. Handy

    Thanks buat komentar dan pengalamannya mbak Vita, eh maksud saya mamanya temennya Joshe :). Benar sekali, pengalaman studi Ph.D. yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian (secara akademis, finansial, kehidupan keluarga, dll) memang membuat kita ditempa dengan keras dan menjadi makin dewasa. Dan terlebih makin berserah pada Tuhan. Semangat dan terus berjuang mbak Vita (and mas Irfan tentunya 🙂 )!.

    Reply
  3. Hapsetyo

    Terimakasih banyak sharing-sharing mas Handy dan mbak Vita juga tentunya. Bagus banget, sangat menginspirasi saya. Salam kenal, Setyo.

    Reply
  4. theanonymouswriterxxx

    Halo Mas Handy, saya follow dan pernah komen di salah satu postingan blog ini beberapa bulan lalu saat saya sedang mencari pembimbing untuk S3 di Australia. Akhirnya saya sdh dapat pembimbing dan bulan Oktober lalu sudah menerima pengumuman beasiswanya, Puji Tuhan saya dapat AGRTP (dulu Australian Postgraduate Award) untuk S3 di ANU Canberra.

    Saya berniat untuk menikah dalam waktu dekat, namun masih ragu apakah berangkat bersama pasangan di semester2 awal akan memberatkan.. mengingat proses penyesuaian kehidupan akademik tentu tidak mudah, dan apabila baru menikah, pasti juga akan ada penyesuaian yang harus dilakukan. Rencana paling “feasible” mungkin ya pergi dulu 1 semester, lalu pulang ke Indonesia buat menikah, melaksanakan fieldwork (karena studi saya perlu mengambil data dengan jalan fieldwork), kemudian kembali ke Canberra lagi untuk lanjut studi ditemani pasangan.

    Pasangan saya berencana mencari kerja di sana sembari menemani saya studi. Apakah Mas Handy punya pengalaman/masukan yang bisa dishare mengenai hal ini? Terima kasih Mas!

    Reply
    1. Handy Wicaksono

      Salam mas/mbak theanonymouswriterxxx. Selamat untuk keberhasilannya mendapatkan beasiswa yang kompetitif. Well done! Selamat juga untuk rencana menikah dalam waktu dekat, semoga lancar dan baik.

      Pertanyaannya agak sulit dijawab dan bergantung pada preferensi masing – masing orang. Untuk saya sendiri, saya lebih sreg kalau keluarga (istri dan anak) ikut kemanapun saya pergi. Istri saya juga demikian. Memang jadi berat secara penyesuaian diri, biaya, dll, tapi saya melihat itu sebagai proses kami sebagai keluarga untuk makin kompak dan dewasa. Dalam pelaksanaannya memang tidak mudah, karena istri saya kadang merasa kesepian karena saya sibuk di kampus, apalagi orang – orang di sekitar beda budaya dan bahasa. Namun juga ada positifnya, karena istri jadi belajar berbahasa Inggris, kami lebih kompak sebagai keluarga, dan makin bergantung pada Tuhan.

      Intinya, silahkan dibicarakan dengan calon istri, dan sepakat dengan 1 pilihan (dengan positif negatifnya), kemudian melangkah dengan doa dan keyakinan.

      Selamat menempuh studi PhD!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *