Pulang malu tak pulang rindu

Dalam posting ini saya ingin membagikan pengalaman kembali ke Indonesia dalam kondisi masih belum menyelesaikan studi PhD, serta bagaimana saya berjuang untuk menyelesaikannya dengan kondisi tidak ideal.

Pulang malu tak pulang rindu

Kalimat di atas benar – benar mewakili perasan saya saat saya harus pulang ke Indonesia tanpa gelar PhD tanggal 30 April 2018. Beberapa minggu sebelumya, profesor memastikan bahwa hasil penelitian saya masih belum memuaskan. Saya sedih, karena merasa sudah bekerja keras namun hasilnya masih jauh dari harapan. Sebenarnya kami rindu Indonesia, namun pulang dengan kondisi belum selesai studi tidaklah mudah. Saya malu dan merasa gagal.

Saat sharing tentang kegagalan ini ke kakak saya, dia berkata dengan santai, “gak apa apa, supaya kamu merasakan kegagalan dalam hidupmu dan belajar dari pengalaman itu”. Saya terdiam. Selama ini orang lain hampir selalu memiliki persepsi bahwa saya pandai, dan “citra pandai” tersebut kini hancur. Mulai saat ini, saya dikategorikan UNSW sebagai mahasiswa yang tidak dapat selesai tepat waktu. It is a humbling experience for me.

Pembimbing dari rekan saya sesama mahasiswa PhD pernah mengatakan hal berikut

Do not let PhD degree defines who you are. It is just one chapter of your life. It is not everything.

Saya mengaminkan hal tersebut. Mendapatkan gelar PhD atau tidak, saya adalah pribadi yang diletakkan Tuhan di dunia dengan suatu maksud yang baik. Hidup saya masih bisa bermanfaat untuk orang lain di sekitar saya, apapun prestasi akademis saya. Dengan pandangan baru ini, saya dan keluargapun pulang ke Indonesia.

Tantangan melanjutkan PhD di Indonesia

Meski sudah mantap untuk pulang ke Indonesia, namun melanjutkan PhD di negara asal tidaklah mudah. Berbagai tantangan berikut sudah menanti saya.

Menjawab pertanyaan: “sudah lulus PhD?”

Saat pulang ke Indonesia, saya harus menyiapkan mental untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan berikut: “kapan nikah” “gimana PhDmu?”, “kapan kamu submit PhD?”, “sekolah kok nggak kelar – kelar sih?”. Meski maksud dari orang yang menanyakan mungkin baik, tapi pertanyaan ini sebenarnya menambah beban kami, para mahasiswa PhD yang pulang sebelum selesai.

Waktu lebih sempit, kurang fokus

Saat di Sydney, karena ditopang beasiswa, setiap hari saya bisa fokus meneliti dari pagi sampai malam tanpa harus memikirkan bagaimana memenuhi biaya hidup keluarga. Saat pulang ke Indonesia, tentunya saya harus bekerja dan menafkahi keluarga. Karena posisi masih studi, beberapa komponen gaji masih belum bisa saya dapatkan, sehingga akhirnya sayapun harus mencari pekerjaan tambahan.

Selain itu, ketika kami berada di Indonesia, lebih banyak waktu dan energi yang harus digunakan untuk terlibat dalam kegiatan keluarga dan masyarakat. Karena kami terlibat dalam suatu pelayanan mahasiswa, kami juga terpanggil untuk berkontribusi dalam komunitas tersebut. Waktu yang tersedia semakin sempit.

Kurangnya resources

Di kampus UNSW, saya bisa mengakses robot dan komputer yang powerful dengan mudah. Saat awal datang kembali ke kampus, saya baru sadar bahwa di jurusan tidak ada komputer dengan spesifikasi yang saya harapkan!  Bersyukur akhirnya ada rekan saya (thanks Pak Handry) yang bisa membantu membeli komputer dengan hibah yang dia ajukan. Perlu waktu sekitar 3 bulan (setelah saya kembali ke Indonesia) sampai akhirnya saya bisa mulai menggunakan komputer tersebut.

Kurang intens bertemu pembimbing

Tantangan lain ialah kemungkinan kurang intensnya pertemuan dengan pembimbing. Saya mendapat cerita dari teman saya tentang mahasiswa PhD yang setiap hari bertemu pembimbing di bulan – bulan terakhir PhDnya. Hal semacam ini lebih sulit dilakukan jika kita berada di luar kampus. Selain itu diskusi yang dilakukan akan lebih sulit, karena tidak mudah untuk mengkomunikasikan beberapa hal pada pembimbing (misalnya menunjukkan hasil perhitungan). Dalam kasus saya, bersyukur karena pembimbing commit untuk memberikan waktunya untuk bertemu saya secara virtual dengan teratur.

Perlu waktu untuk adaptasi kembali

Setelah tiba di Indonesia, saya tidak bisa langsung mengerjakan thesis. Paling tidak saya dan keluarga perlu sekitar 2 – 3 bulan untuk beradaptasi kembali dengan daily life di Surabaya. Saya harus memastikan kebutuhan keluarga saya seperti: memastikan tempat tinggal layak huni, mencari sekolah untuk anak, ataupun mencari dokter dan fasilitas kesehatan yang cocok. Kami juga harus membiasakan diri kembali dengan “budaya khas” masyarakat kita, misalnya saat berkendara di jalan raya atau saat menggunakan fasilitas umum.

Saya sendiri harus beradaptasi ulang dengan pekerjaan. Ngobrol dengan kolega – kolega saya di kampus, mempelajari sistem terbaru di tempat kerja, mencari ruangan yang sesuai, ataupun menciptakan mekanisme kerja baru. Secara finansial, kami harus belajar mencukupkan diri dengan gaji yang ada (dengan beberapa komponen yang belum bisa kami klaim).

Kerja, kerja, dan kerja

Meskipun ada banyak tantangan, saya harus melangkah maju untuk mengerjakan dan menyelesaikan thesis saya di Indonesia. Ada beberapa hal yang saya lakukan.

Remind myself, why I should finish my PhD

Di semester pertama setelah pulang ke Indonesia, profesor belum mengijinkan saya untuk submit. Setelah itu, saya tidak menyentuh thesis saya selama 3 bulan. Saya bosan. Saya merasa gagal. Saya muak. Kadang hanya memikirkan thesis saja membuat perut saya mulas 😅. Pada fase tersebut, di alam bawah sadar saya sebenarnya saya sudah menyerah dan menerima kenyataan kalau saya tidak akan bisa submit thesis saya. Setelah hampir 5 tahun, sangat berat untuk mengumpulkan motivasi dan energi untuk melakukan sprint terakhir.

Titik balik dalam PhD journey saya terjadi saat saya mendapat libur panjang di akhir tahun 2018. Dengan adanya waktu kosong dan rileks, saya bisa leluasa berdoa dan menyerahkan masalah saya pada Tuhan. Saya juga banyak berdiskusi dengan istri saya. Menimbang – nimbang untung ruginya. Bersyukur akhirnya saya kembali mendapatkan akal sehat dan keberanian untuk melanjutkan PhD saya. Dalam posting saya sebelumnya, saya menuliskan proses pergulatan batin ini.

Stay focus

Supaya punya cukup energi untuk menyelesaikan thesis, saya berkomunikasi dengan pimpinan dan kolega di kampus saya supaya diijinkan untuk absen dari kegiatan – kegiatan yang sifatnya optional. Saya juga meminta bantuan kepada beberapa teman untuk menggantikan saya di beberapa peran. Saya melakukan hal yang sama di organisasi lain yang saya ikuti. Saya berhenti melakukan program pelatihan untuk industri pada 1 – 2 bulan terakhir sebelum deadline pengumpulan thesis.

Selain mengatur beban kerja dan kegiatan lain, saya perlu mengurangi distraksi yang muncul dari mobile phone. Untuk menghindari dorongan untuk selalu mengecek HP, saya matikan notifikasi email, aplikasi WA, dan aplikasi Line. Saya bisa mengecek ketiganya saat saya mengambil break. Saya juga menghapus aplikasi FB dan IG di HP, karena keduanya bukanlah aplikasi komunikasi yang urgent dan harus sering dilihat. Jika perlu saya bisa membuka keduanya melalui web browser.

Work hard

Ini terdengar klise, namun memang tidak ada cara lain untuk menyelesaikan thesis selain bekerja keras. Apalagi waktu yang tersisa tinggal 3 bulan dan permintaan (serta revisi terdahulu) dari profesor masih banyak yang belum saya kerjakan. Karena saya juga bekerja sebagai dosen, saya tidak punya waktu utuh untuk mengerjakan thesis. Ini menyebabkan sekitar 3 bulan terakhir, saya hampir selalu pulang malam (biasanya paling awal jam 20.00) dan bekerja di hari Sabtu (kadang di hari Minggu dan hari libur juga).

Keep calm 

Keep calm. Saya menemukan bahwa “tetap tenang” adalah hal yang penting untuk memampukan kita bekerja dengan energi maksimal dan membuka kreativitas untuk memecahkan masalah. Sikap ini juga menghindarkan konflik yang tidak perlu karena saya sedang tegang.

Saya ingat semester lalu saya sangat tegang dan takut jika saya tidak bisa submit. Akibatnya saya “mengisolasi diri” dari orang lain, bahkan dari keluarga saya, supaya bisa bekerja. Namun ternyata ini membuat istri dan anak saya gelisah dan tidak damai sejahtera. Kali ini saya memastikan pulang sebelum jam tidur anak saya, dan selalu menidurkan dia. Saya juga menyempatkan untuk ngobrol yang berkualitas dengan istri saya di pagi hari meski waktu terbatas.

Bagaimana supaya tetap tenang? Bagi saya, waktu sendiri yang cukup untuk melakukan refleksi pribadi dan berdoa sangat penting. Suatu pagi saya membaca dari Alkitab tentang Yesus yang mengatakan pada Yairus (yang anaknya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia):

Jangan takut, percaya saja

Hal ini menenangkan saya karena meski situasi di sekeliling saya tampak buruk, saya cukup percaya saja, bahwa Tuhan akan menolong saya. Tuhan selalu pegang kendali.

Help from other people

Selain hal – hal yang saya kemukakan di atas, ada orang – orang penting yang membantu saya untuk bisa submit.

Pembimbing

Selama 3 bulan terakhir, pembimbing menyediakan waktu intens bertemu secara virtual 1 – 2 kali seminggu. Padahal saat itu beliau sedang sangat sibuk mengkoordinasi RoboCup 2019 di Sydney. Kemudian pembimbing juga merevisi sendiri tulisan saya dalam bahasa Inggris. Semester sebelumnya saya menggunakan jasa proof reader dari Australia (yang biayanya mahal), namun beliau masih belum puas.

Seminggu terakhir sebelum submission deadline, pembimbing saya mengindikasikan bahwa hasil kerja saya sudah cukup dan meminta untuk meletakkan masalah – masalah yang belum terpecahkan ke bagian future work. It’s like a very beautiful song in my ears! Finally, I can see the light at the end of the tunnel. Setelah hampir 5 tahun profesor meminta saya untuk menambahkan sesuatu dan terus bekerja, untuk pertama kalinya saya mendengar beliau berkata “cukup”.

Staf di UNSW

Sebelum pengumpulan, ada form – form yang harus diisi. Saya juga harus mengganti abstrak dengan yang baru, padahal menurut aturan abstrak tidak boleh diganti. Bersyukur untuk koordinator Postgraduate kami (pak Salil)  juga staf Thesis Examination Management yang sangat membantu sehingga semua dapat diselesaikan by email dalam waktu relatif singkat.

Teman – teman di Sydney

Karena saya akan submit dari Indonesia, beberapa minggu terakhir saya mulai mengontak beberapa teman yang masih berada di Sydney untuk sekadar curhat dan menanyakan prosedur submission. Saya juga perlu bantuan untuk mengambil receipt dan souvenir setelah submit (thanks bro Aulia, pak Yusak).

Selain itu, bagian utama dari submission process di UNSW ialah: mencetak 2 buku thesis, menjilidnya, dan mengumpulkannya ke Graduate Research School. Untuk melakukan ini saya meminta bantuan teman baik yang satu lab dengan saya (Sharmilla dari Nepal). Di setahun terakhir, bersama Ben (China) dan Bac (Vietnam), kami menjadi kelompok yang saling mendukung satu dengan yang lain. Studi PhD terlalu berat untuk dilalui sendiri!

Sharmilla, yang sudah submit 2 minggu sebelumnya, dengan  murah hati mau mencetak (di lab kami bisa mencetak dengan gratis), menjilid dan mengumpulkan buku saya. Dia juga membayar uang penjilidan tanpa mau diganti. Thanks a lot Sharmila, may God bless you!

Submission Day

Akhirnya hari yang saya tunggu – tunggu sejak 5 tahun yang lalu datang juga. Dengan dibantu teman saya di UNSW, akhirnya saya submit! Rasanya lega, plong, bersyukur. Beban yang mengikuti saya selama 5 tahun akhirnya hilang. Seperti mimpi yang saya sendiri sulit percayai.

Di atas semuanya, saya melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan untuk menggenapi janjiNya.

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Perjalanan PhD saya belum selesai, karena saya masih harus menunggu dan mengerjakan revisi dari para examiners. Namun saya mengucap syukur karena satu tahapan besar sudah terlewati saat ini.

Terima kasih sudah membaca kisah saya, semoga bermanfaat.

8 thoughts on “Pulang malu tak pulang rindu

  1. Siska Setiyorini

    Absolutely you should.. Be consistent and do not afraid, as you know God never let you down.. Successful is not about your PhD but all about the effort you make to. And the consistent and the commitment…

    Reply
  2. Adit

    Terimakasih buat Sharingnya om Handy, semoga sukses sampai akhir dan ilmu bermanfaat buat orng lain.. Gbu All

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *