Kampus Merdeka: wajah PT Indonesia di masa mendatang

Minggu lalu saya mendapat kesempatan yang baik untuk mewakili kampus UK Petra untuk mengikuti seleksi dan pelatihan reviewer Program Kompetisi Kampus Merdeka. Posting ini merupakan interpretasi pribadi saya dari beberapa bahan yang disampaikan narasumber terkait kampus merdeka, yang akan mengubah wajah perguruan tinggi Indonesia di masa mendatang.

Untuk mentransformasi wajah Perguruan Tinggi, terdapat 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) yang dinilai dalam sebuah perguruan tinggi, 8 IKU tersebut dirangkum dalam 3 hal: kualitas lulusan, kualitas dosen dan pengajar, dan kualitas kurikulum. Mari kita bahas satu per satu.

Screenshot dari paparan Mendikbud di YouTube channel Kemdikbud [1]

Kualitas lulusan

Hal ini meliputi:

  1. Lulusan mendapat pekerjaan layak (pekerjaan dengan upah di atas UMR, menjadi wirausahawan, atau melanjutkan studi)
  2. Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus (8 kegiatan kampus merdeka)

Dari bagian pertama, PT perlu memikirkan bagaimana supaya lulusannya mendapat pekerjaan yang layak. Hal ini akan memacu PT untuk memberikan materi – materi yang lebih applicable dan tepat guna di dunia pekerjaan. Bukan rahasia umum lagi jika industri selalu mengeluhkan lulusan PT yang “tidak siap pakai”. Selain itu, PT bisa mengarahkan mahasiswa untuk mendapatkan sertifikasi profesi, sehingga saat lulus mahasiswa sudah memiliki bekal untuk bekerja.

Bagian ke dua ialah bagian yang paling sering disampaikan oleh mas Mendikbud, di mana mahasiswa perlu belajar “berenang di laut lepas”, bukan lagi hanya di “kolam renang”. Hal ini ditandai dengan keharusan PT menyediakan hak belajar maksimal 3 semester di luar prodi. Berikut ini 8 alternatif bentuk kegiatan pembelajaran di luar kampus:

8 contoh bentuk kegiatan pembelajaran
  1. Pertukaran mahasiswa
  2. Magang
  3. Mengajar di sekolah
  4. Penelitian
  5. Membangun desa
  6. Studi/proyek mandiri
  7. Kewirausahaan mahasiswa
  8. Proyek kemanusiaan

Saya pribadi berpendapat mahasiswa akan mendapat sangat banyak manfaat dari kegiatan di luar kampus ini. Mereka dapat belajar terkait hard skill dan soft skill di dunia nyata. Meski pada penerapannya tidak akan mudah (terkait ketersediaan tempat magang, pengaturan kurikulum di prodi, dll), namun visi yang disampaikan Mendikbud menurut saya sangat relevan dan dibutuhkan.

Kualitas dosen dan pengajar

Pada bagian ini terdapat 2 item yang akan dibahas:

  1. Dosen berkegiatan di luar kampus (mencari pengalaman di industri atau berkegiatan di kampus lain)
  2. Praktisi mengajar di dalam kampus (merekrut dosen dengan pengalaman industri)

Dosen tidak lagi hanya melakukan Tri Dharma pendidikan (pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat) seperti pada umumnya, namun dituntut juga untuk berkegiatan di luar kampus, khususnya di industri. Hal ini sangat baik supaya dosen memiliki contoh kasus yang nyata saat mengajar di kelas, juga dosen dapat berkontribusi memecahkan “real problem” di industri.

Sudah bukan rahasia umum, bahwa sebagian dosen banyak mengerjakan project di industri. Hal tersebut kini “dilegalkan”, asalkan impactnya jelas bagi PT dan mahasiswa (dan tentunya tidak mengganggu tugas utama sebagai dosen).

Selain itu, PT perlu lebih banyak mengajak praktisi untuk mengajar di dalam kampus. Hal ini penting supaya mahasiswa mendapat wawasan, ilmu pengetahuan, bahkan skill yang saat ini bermanfaat di dunia kerja. Kehadiran praktisi ini juga dapat memberi masukan untuk dosen dan prodi dalam menyusun bahan perkuliahan, bahkan kurikulum prodi.

Kualitas Kurikulum

Bagian ini meliputi 3 item berikut:

  1. Program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia (dalam kurikulum, magang, dan penyerapan lulusan)
  2. Kelas yang kolaboratif dan partisipatif (evaluasi menggunakan metode studi kasus)
  3. Program studi berstandar internasional (memperoleh akreditasi tingkat internasional)

Untuk meningkatkan kurikulum, prodi perlu bekerja sama dengan mitra yang berkelas dunia. Mitra di sini bisa berupa perguruan tinggi, perusahaan, atau lembaga lain yang relevan. Prodi dapat melakukan kerja sama saat menyusun kurikulum yang representatif dengan perkembangan jaman. Selain itu prodi juga dapat melakukan kerja sama terkait magang ataupun penempatan lulusan.

Selain itu, prodi perlu menciptakan kelas yang kolaboratif dan partisipatif. Dosen bukan lagi menjadi satu – satunya sumber belajar. Mahasiswa perlu menciptakan sendiri pengalaman belajar mereka bersama dengan teman – teman sekelasnya. Dosen dapat memfasilitasi perkuliahan dengan memberikan contoh kasus/masalah nyata di lapangan.

Yang terakhir, untuk memastikan kualitasnya, prodi perlu memiliki standar internasional di organisasi – organisasi akreditasi bereputasi.

Untuk lebih lengkapnya, panduan iku dapat didownload di link Kemdibud berikut [2].

Sumber:

[1] https://www.youtube.com/watch?v=50Y1b6s5fHY – “Merdeka Belajar Episode 6: “Transformasi Dana Pemerintah untuk Perguruan Tinggi”

[2] https://pkkmdikti.kemdikbud.go.id/buku-panduan

Leave a Comment