Just a handy note https://handywicaksono.web.id My journey as a learner, a teacher, a person Thu, 18 Jul 2019 12:43:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.1.1 https://handywicaksono.web.id/wp-content/uploads/2019/04/cropped-01_Pencil-512-32x32.png Just a handy note https://handywicaksono.web.id 32 32 161203556 Pulang malu tak pulang rindu https://handywicaksono.web.id/2019/04/17/pulang-malu-tak-pulang-rindu/ https://handywicaksono.web.id/2019/04/17/pulang-malu-tak-pulang-rindu/#comments Wed, 17 Apr 2019 13:01:35 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=727 Dalam posting ini saya ingin membagikan pengalaman kembali ke Indonesia dalam kondisi masih belum menyelesaikan studi PhD, serta bagaimana saya berjuang untuk menyelesaikannya dengan kondisi tidak ideal.

Pulang malu tak pulang rindu

Kalimat di atas benar – benar mewakili perasan saya saat saya harus pulang ke Indonesia tanpa gelar PhD tanggal 30 April 2018. Beberapa minggu sebelumya, profesor memastikan bahwa hasil penelitian saya masih belum memuaskan. Saya sedih, karena merasa sudah bekerja keras namun hasilnya masih jauh dari harapan. Sebenarnya kami rindu Indonesia, namun pulang dengan kondisi belum selesai studi tidaklah mudah. Saya malu dan merasa gagal.

Saat sharing tentang kegagalan ini ke kakak saya, dia berkata dengan santai, “gak apa apa, supaya kamu merasakan kegagalan dalam hidupmu dan belajar dari pengalaman itu”. Saya terdiam. Selama ini orang lain hampir selalu memiliki persepsi bahwa saya pandai, dan “citra pandai” tersebut kini hancur. Mulai saat ini, saya dikategorikan UNSW sebagai mahasiswa yang tidak dapat selesai tepat waktu. It is a humbling experience for me.

Pembimbing dari rekan saya sesama mahasiswa PhD pernah mengatakan hal berikut

Do not let PhD degree defines who you are. It is just one chapter of your life. It is not everything.

Saya mengaminkan hal tersebut. Mendapatkan gelar PhD atau tidak, saya adalah pribadi yang diletakkan Tuhan di dunia dengan suatu maksud yang baik. Hidup saya masih bisa bermanfaat untuk orang lain di sekitar saya, apapun prestasi akademis saya. Dengan pandangan baru ini, saya dan keluargapun pulang ke Indonesia.

Tantangan melanjutkan PhD di Indonesia

Meski sudah mantap untuk pulang ke Indonesia, namun melanjutkan PhD di negara asal tidaklah mudah. Berbagai tantangan berikut sudah menanti saya.

Menjawab pertanyaan: “sudah lulus PhD?”

Saat pulang ke Indonesia, saya harus menyiapkan mental untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan berikut: “kapan nikah” “gimana PhDmu?”, “kapan kamu submit PhD?”, “sekolah kok nggak kelar – kelar sih?”. Meski maksud dari orang yang menanyakan mungkin baik, tapi pertanyaan ini sebenarnya menambah beban kami, para mahasiswa PhD yang pulang sebelum selesai.

Waktu lebih sempit, kurang fokus

Saat di Sydney, karena ditopang beasiswa, setiap hari saya bisa fokus meneliti dari pagi sampai malam tanpa harus memikirkan bagaimana memenuhi biaya hidup keluarga. Saat pulang ke Indonesia, tentunya saya harus bekerja dan menafkahi keluarga. Karena posisi masih studi, beberapa komponen gaji masih belum bisa saya dapatkan, sehingga akhirnya sayapun harus mencari pekerjaan tambahan.

Selain itu, ketika kami berada di Indonesia, lebih banyak waktu dan energi yang harus digunakan untuk terlibat dalam kegiatan keluarga dan masyarakat. Karena kami terlibat dalam suatu pelayanan mahasiswa, kami juga terpanggil untuk berkontribusi dalam komunitas tersebut. Waktu yang tersedia semakin sempit.

Kurangnya resources

Di kampus UNSW, saya bisa mengakses robot dan komputer yang powerful dengan mudah. Saat awal datang kembali ke kampus, saya baru sadar bahwa di jurusan tidak ada komputer dengan spesifikasi yang saya harapkan!  Bersyukur akhirnya ada rekan saya (thanks Pak Handry) yang bisa membantu membeli komputer dengan hibah yang dia ajukan. Perlu waktu sekitar 3 bulan (setelah saya kembali ke Indonesia) sampai akhirnya saya bisa mulai menggunakan komputer tersebut.

Kurang intens bertemu pembimbing

Tantangan lain ialah kemungkinan kurang intensnya pertemuan dengan pembimbing. Saya mendapat cerita dari teman saya tentang mahasiswa PhD yang setiap hari bertemu pembimbing di bulan – bulan terakhir PhDnya. Hal semacam ini lebih sulit dilakukan jika kita berada di luar kampus. Selain itu diskusi yang dilakukan akan lebih sulit, karena tidak mudah untuk mengkomunikasikan beberapa hal pada pembimbing (misalnya menunjukkan hasil perhitungan). Dalam kasus saya, bersyukur karena pembimbing commit untuk memberikan waktunya untuk bertemu saya secara virtual dengan teratur.

Perlu waktu untuk adaptasi kembali

Setelah tiba di Indonesia, saya tidak bisa langsung mengerjakan thesis. Paling tidak saya dan keluarga perlu sekitar 2 – 3 bulan untuk beradaptasi kembali dengan daily life di Surabaya. Saya harus memastikan kebutuhan keluarga saya seperti: memastikan tempat tinggal layak huni, mencari sekolah untuk anak, ataupun mencari dokter dan fasilitas kesehatan yang cocok. Kami juga harus membiasakan diri kembali dengan “budaya khas” masyarakat kita, misalnya saat berkendara di jalan raya atau saat menggunakan fasilitas umum.

Saya sendiri harus beradaptasi ulang dengan pekerjaan. Ngobrol dengan kolega – kolega saya di kampus, mempelajari sistem terbaru di tempat kerja, mencari ruangan yang sesuai, ataupun menciptakan mekanisme kerja baru. Secara finansial, kami harus belajar mencukupkan diri dengan gaji yang ada (dengan beberapa komponen yang belum bisa kami klaim).

Kerja, kerja, dan kerja

Meskipun ada banyak tantangan, saya harus melangkah maju untuk mengerjakan dan menyelesaikan thesis saya di Indonesia. Ada beberapa hal yang saya lakukan.

Remind myself, why I should finish my PhD

Di semester pertama setelah pulang ke Indonesia, profesor belum mengijinkan saya untuk submit. Setelah itu, saya tidak menyentuh thesis saya selama 3 bulan. Saya bosan. Saya merasa gagal. Saya muak. Kadang hanya memikirkan thesis saja membuat perut saya mulas 😅. Pada fase tersebut, di alam bawah sadar saya sebenarnya saya sudah menyerah dan menerima kenyataan kalau saya tidak akan bisa submit thesis saya. Setelah hampir 5 tahun, sangat berat untuk mengumpulkan motivasi dan energi untuk melakukan sprint terakhir.

Titik balik dalam PhD journey saya terjadi saat saya mendapat libur panjang di akhir tahun 2018. Dengan adanya waktu kosong dan rileks, saya bisa leluasa berdoa dan menyerahkan masalah saya pada Tuhan. Saya juga banyak berdiskusi dengan istri saya. Menimbang – nimbang untung ruginya. Bersyukur akhirnya saya kembali mendapatkan akal sehat dan keberanian untuk melanjutkan PhD saya. Dalam posting saya sebelumnya, saya menuliskan proses pergulatan batin ini.

Stay focus

Supaya punya cukup energi untuk menyelesaikan thesis, saya berkomunikasi dengan pimpinan dan kolega di kampus saya supaya diijinkan untuk absen dari kegiatan – kegiatan yang sifatnya optional. Saya juga meminta bantuan kepada beberapa teman untuk menggantikan saya di beberapa peran. Saya melakukan hal yang sama di organisasi lain yang saya ikuti. Saya berhenti melakukan program pelatihan untuk industri pada 1 – 2 bulan terakhir sebelum deadline pengumpulan thesis.

Selain mengatur beban kerja dan kegiatan lain, saya perlu mengurangi distraksi yang muncul dari mobile phone. Untuk menghindari dorongan untuk selalu mengecek HP, saya matikan notifikasi email, aplikasi WA, dan aplikasi Line. Saya bisa mengecek ketiganya saat saya mengambil break. Saya juga menghapus aplikasi FB dan IG di HP, karena keduanya bukanlah aplikasi komunikasi yang urgent dan harus sering dilihat. Jika perlu saya bisa membuka keduanya melalui web browser.

Work hard

Ini terdengar klise, namun memang tidak ada cara lain untuk menyelesaikan thesis selain bekerja keras. Apalagi waktu yang tersisa tinggal 3 bulan dan permintaan (serta revisi terdahulu) dari profesor masih banyak yang belum saya kerjakan. Karena saya juga bekerja sebagai dosen, saya tidak punya waktu utuh untuk mengerjakan thesis. Ini menyebabkan sekitar 3 bulan terakhir, saya hampir selalu pulang malam (biasanya paling awal jam 20.00) dan bekerja di hari Sabtu (kadang di hari Minggu dan hari libur juga).

Keep calm 

Keep calm. Saya menemukan bahwa “tetap tenang” adalah hal yang penting untuk memampukan kita bekerja dengan energi maksimal dan membuka kreativitas untuk memecahkan masalah. Sikap ini juga menghindarkan konflik yang tidak perlu karena saya sedang tegang.

Saya ingat semester lalu saya sangat tegang dan takut jika saya tidak bisa submit. Akibatnya saya “mengisolasi diri” dari orang lain, bahkan dari keluarga saya, supaya bisa bekerja. Namun ternyata ini membuat istri dan anak saya gelisah dan tidak damai sejahtera. Kali ini saya memastikan pulang sebelum jam tidur anak saya, dan selalu menidurkan dia. Saya juga menyempatkan untuk ngobrol yang berkualitas dengan istri saya di pagi hari meski waktu terbatas.

Bagaimana supaya tetap tenang? Bagi saya, waktu sendiri yang cukup untuk melakukan refleksi pribadi dan berdoa sangat penting. Suatu pagi saya membaca dari Alkitab tentang Yesus yang mengatakan pada Yairus (yang anaknya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia):

Jangan takut, percaya saja

Hal ini menenangkan saya karena meski situasi di sekeliling saya tampak buruk, saya cukup percaya saja, bahwa Tuhan akan menolong saya. Tuhan selalu pegang kendali.

Help from other people

Selain hal – hal yang saya kemukakan di atas, ada orang – orang penting yang membantu saya untuk bisa submit.

Pembimbing

Selama 3 bulan terakhir, pembimbing menyediakan waktu intens bertemu secara virtual 1 – 2 kali seminggu. Padahal saat itu beliau sedang sangat sibuk mengkoordinasi RoboCup 2019 di Sydney. Kemudian pembimbing juga merevisi sendiri tulisan saya dalam bahasa Inggris. Semester sebelumnya saya menggunakan jasa proof reader dari Australia (yang biayanya mahal), namun beliau masih belum puas.

Seminggu terakhir sebelum submission deadline, pembimbing saya mengindikasikan bahwa hasil kerja saya sudah cukup dan meminta untuk meletakkan masalah – masalah yang belum terpecahkan ke bagian future work. It’s like a very beautiful song in my ears! Finally, I can see the light at the end of the tunnel. Setelah hampir 5 tahun profesor meminta saya untuk menambahkan sesuatu dan terus bekerja, untuk pertama kalinya saya mendengar beliau berkata “cukup”.

Staf di UNSW

Sebelum pengumpulan, ada form – form yang harus diisi. Saya juga harus mengganti abstrak dengan yang baru, padahal menurut aturan abstrak tidak boleh diganti. Bersyukur untuk koordinator Postgraduate kami (pak Salil)  juga staf Thesis Examination Management yang sangat membantu sehingga semua dapat diselesaikan by email dalam waktu relatif singkat.

Teman – teman di Sydney

Karena saya akan submit dari Indonesia, beberapa minggu terakhir saya mulai mengontak beberapa teman yang masih berada di Sydney untuk sekadar curhat dan menanyakan prosedur submission. Saya juga perlu bantuan untuk mengambil receipt dan souvenir setelah submit (thanks bro Aulia, pak Yusak).

Selain itu, bagian utama dari submission process di UNSW ialah: mencetak 2 buku thesis, menjilidnya, dan mengumpulkannya ke Graduate Research School. Untuk melakukan ini saya meminta bantuan teman baik yang satu lab dengan saya (Sharmilla dari Nepal). Di setahun terakhir, bersama Ben (China) dan Bac (Vietnam), kami menjadi kelompok yang saling mendukung satu dengan yang lain. Studi PhD terlalu berat untuk dilalui sendiri!

Sharmilla, yang sudah submit 2 minggu sebelumnya, dengan  murah hati mau mencetak (di lab kami bisa mencetak dengan gratis), menjilid dan mengumpulkan buku saya. Dia juga membayar uang penjilidan tanpa mau diganti. Thanks a lot Sharmila, may God bless you!

Submission Day

Akhirnya hari yang saya tunggu – tunggu sejak 5 tahun yang lalu datang juga. Dengan dibantu teman saya di UNSW, akhirnya saya submit! Rasanya lega, plong, bersyukur. Beban yang mengikuti saya selama 5 tahun akhirnya hilang. Seperti mimpi yang saya sendiri sulit percayai.

Di atas semuanya, saya melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan untuk menggenapi janjiNya.

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Perjalanan PhD saya belum selesai, karena saya masih harus menunggu dan mengerjakan revisi dari para examiners. Namun saya mengucap syukur karena satu tahapan besar sudah terlewati saat ini.

Terima kasih sudah membaca kisah saya, semoga bermanfaat.

]]>
https://handywicaksono.web.id/2019/04/17/pulang-malu-tak-pulang-rindu/feed/ 8 727
Why should I finish my PhD? https://handywicaksono.web.id/2018/12/26/why-should-i-finish-my-ph-d/ https://handywicaksono.web.id/2018/12/26/why-should-i-finish-my-ph-d/#respond Wed, 26 Dec 2018 04:25:24 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=753 Saat ini saya ada di penghujung tahun ke 5 studi Ph.D. saya.  Empat tahun saya habiskan di Australia dan 1 tahun terakhir saya menulis (dan melakukan simulasi) dari Indonesia. Setahun terakhir, di tengah kelelahan secara fisik dan emosi, pertanyaan berikut sering muncul: “Apakah saya harus berhenti atau melanjutkan PhD saya?”. Tulisan ini ialah rekaman beberapa pergumulan batin saya dan self encouragement bagi saya untuk menyelesaikan PhD saya.

Should I quit my PhD?

Saya yakin hampir setiap mahasiswa PhD pernah menanyakan hal ini dalam masa studi mereka. Karena mahasiswa PhD umumnya memiliki prestasi yang baik di fase studi sebelumnya, tidak mudah menerima kenyataan bahwa mereka ternyata “tidak terlalu pintar” dan mengalami kesulitan saat menempuh PhD. Saya mengalaminya. Berikut beberapa kesulitan yang saya alami.

My difficulties

Studi PhD tidaklah mudah. Di Australia, penelitian yang kita kerjakan haruslah memberikan kontribusi baru pada ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Bagaimana menghasilkan kontribusi baru itu? Tidak ada yang tahu persis caranya. Profesor akan memberi arahan, tapi pada akhirnya mahasiswa sendirilah yang harus menemukannya sebagai peneliti yang mandiri. Hal ini cukup sulit, apalagi bagi mahasiswa Asia yang umumnya hanya mengerjakan apa yang diminta oleh pembimbingnya. Kecenderungan perfectionism dapat membuatnya makin sulit.

Kesulitan berikutnya ialah dalam penulisan buku thesis. Karena pengalaman studi saya sepenuhnya di Indonesia, saya tidak punya pengalaman menulis laporan formal yang panjang dalam bahasa Inggris. Saya juga baru menyadari bahwa bahasa Inggris saya ternyata masih kurang bagus juga. Meskipun dibantu software (Grammarly) dan proof reader, profesor saya masih menemukan banyak kesalahan dari buku saya.

Karena saya sudah menempuh lebih dari 4 tahun studi PhD, saya (dan keluarga) merasa lelah. Physically and mentally exhausted. Tidak seperti mahasiswa S1 dan S2 yang berganti subyek setiap semester (dan ditandai ujian di akhir semester), studi S3 berfokus pada memikirkan dan memecahkan masalah yang sama selama 4 tahun. It haunts me!

Bukan hanya saya, keluarga saya juga terkena efek beban emosi yang saya bawa. Kadang saya marah tanpa alasan yang jelas. Kadang saya “mengabaikan” mereka karena harus fokus mengerjakan penelitian saya. Salah satu alasan kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia (selain beasiswa yang habis) ialah untuk memberi suasana yang baru dan lebih sehat untuk keluarga saya.

Kesulitan terakhir yang saya alami, khususnya saat kembali ke Indonesia, ialah kesulitan finansial. Di satu sisi gaji saya tidak  bisa kembali seperti semula karena saya harus bekerja “minimal”, sehingga saya punya waktu untuk mengerjakan thesis. Namun di sisi lain, kebutuhan – kebutuhan bertambah dengan cepat (dibanding 4 tahun yang lalu). Hal ini menjadi ketegangan tersendiri bagi saya.

Actually, I almost give up

Akhir September 2018 lalu saya merencanakan untuk submit thesis saya. Namun sampai detik terakhir, profesor saya masih merasa belum puas dengan hasil kerja dan buku saya. Karena kelelahan fisik, pikiran, dan emosi, saat itu saya menyampaikan kepada beliau, “if I can not submit my thesis this period, I may quit my PhD, as I can not afford to pay the tuition fee“. FYI, semester berikutnya saya harus membayar tuition fee sekitar  6700 AUD.

Jika profesor memilih untuk mengabaikan dan melepas saya saat itu, I’m done. Saya benar – benar akan kehilangan studi Ph.D saya. Namun Tuhan masih mengasihi saya. Ia menggerakkan hati profesor untuk mencari cara mendanai Ph.D. saya. Akhirnya beliau merelakan dana penelitiannya untuk membayar tuition fee saya di semester 10. Thanks God. Thanks Prof.

Why should I finish my PhD?

Setelah pengalaman di atas, saya mencoba mencari alasan – alasan mengapa saya harus meneruskan (dan menyelesaikan studi saya). Berikut ini beberapa di antaranya.

It’s my personal responsibility to God

Hal terpenting mengapa saya harus menyelesaikan studi saya, ialah karena itu bentuk tanggung jawab saya kepada Tuhan. Di antara ratusan juta orang di Indonesia, melalui beasiswa pemerintah Indonesia dan UK Petra,  saya diijinkan Tuhan untuk menempuh studi di Australia.  Ini adalah anugerah dan berkat yang besar dari Tuhan untuk sebagian kecil orang. Apakah saya akan menyia – nyiakannya?

Selain itu, saya secara pribadi perlu menjawab pertanyaan berikut: “Is God really faithful?” Dengan “menyerah”, saya akan kehilangan kesempatan untuk membuktikan dan merasakan kesetiaan Tuhan. Pertolongan dan penyertaanNya selama 5 tahun studi saya menjadi sia – sia.

It’s my responsibility to everyone (and every institution) who supports me 

Selain kepada Tuhan, saya memiliki tanggung jawab pada pemerintah Indonesia (bahkan kepada segenap bangsa Indonesia) karena saya mendapatkan beasiswa khusus dosen untuk studi di Australia. Setiap tahun, hampir 1 miliar rupiah diberikan kepada setiap penerima beasiswa. Jumlah yang sangat besar. Untuk itu saya harus membayar tanggung jawab ini dengan menyelesaikan studi saya, kemudian do something untuk membantu memajukan pendidikan di Indonesia.

Saya juga mendapat dukungan finansial untuk keluarga saya selama studi dari Universitas Kristen Petra. UKP dengan murah hati memberikan dana tambahan, biaya asuransi, tiket PP untuk keluarga, dll. Pimpinan dan rekan – rekan di program studi Teknik Elektro juga mendukung dengan berbagai cara: memberi beban kerja minimal, menyemangati, dan mendoakan. Saya ingin pay back dukungan dan dorongan mereka dengan menyelesaikan studi.

Meskipun sangat perfeksionis dan agak “dingin” dalam relasi, sejatinya pembimbing saya selalu mendukung saya. Meski sangat sibuk, beliau selalu menyediakan diri untuk membimbing saya. Dalam sidang tahunan, sangat sering beliau support saya meski progress saya cukup lambat. Bukti terakhir dukungan beliau ialah dengan menggunakan dana penelitian sebagai profesor untuk mendanai saya selama 2 semester (total sekitar 10.000 AUD). Well, dengan dukungan sebesar itu, apakah mungkin saya tidak merespons dengan baik?

Last but not least, saya harus menyelesaikan studi saya karena istri dan anak saya sudah mendukung dengan luar biasa sampai sekarang. Istri saya merelakan banyak waktu keluarga untuk saya gunakan dalam penyelesaian studi. Banyak pekerjaan rumah yang dengan rela hati dia kerjakan sendiri. Di Australia, istri saya bahkan berkorban dengan bekerja part time sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah tangga kami. Anak saya juga “berkorban” dengan tinggal di unit yang sangat kecil selama 4 tahun, mengalami “kekacauan” budaya dan bahasa, dan lain – lain. I want to finish my study for them.

I owe myself this Ph.D.

Setelah 5 tahun yang paling melelahkan dalam hidup saya. Apakah saya benar – benar rela untuk walk away from it atau just let it go? Tidak. Saya berhutang pada diri saya, hati nurani saya, untuk menyelesaikan studi Ph.D. ini. Saya juga tidak ingin di masa mendatang anak, mahasiswa, atau orang yang saya bimbing melihat bahwa ayah atau guru mereka menyerah dalam perjuangan untuk meraih Ph.D.

Get a PhD or die trying *

Minggu lalu saya melihat quote menggelitik berikut di FB mantan mahasiswa saya:

Kebanyakan pencapaian luar biasa di dunia ini berasal dari orang yang lelah dan hampir putus asa tapi menolak untuk berhenti

Kutipan ini beresonansi dengan situasi saya saat ini. Saya memang lelah dan hampir putus asa. Namun saya menolak untuk berhenti.

Pada akhirnya saya ingin diingat (dan mengingat diri sendiri) sebagai orang yang berusaha sungguh – sungguh, mati – matian, untuk menyelesaikan studi PhD saya. Perkara gagal atau berhasil saya serahkan pada Tuhan. Yang penting saya berusaha sekuat tenaga.

Thanks folks for reading. Hope some of you find it useful.

Catatan: * modifikasi bebas dari judul album rapper 50 cents “Get rich or die tryin”

]]>
https://handywicaksono.web.id/2018/12/26/why-should-i-finish-my-ph-d/feed/ 0 753
A burning furnace in our life https://handywicaksono.web.id/2016/12/19/a-burning-furnace-in-our-life/ https://handywicaksono.web.id/2016/12/19/a-burning-furnace-in-our-life/#comments Sun, 18 Dec 2016 20:54:41 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=639 Awal September 2016 lalu, keluarga kami melewati fase berat saat Joshe, anak kami, harus dirawat di Sydney Children Hospital selama hampir satu bulan. Seperti emas yang harus dimurnikan melalui perapian yang sangat panas, kami harus melewati fase yang sama untuk menjadi makin dewasa.

gold-smelting-molten-1024x768

Shocking moment

Hari itu, 7 September 2016, semua berjalan seperti biasa. Joshe tampak sehat, dia pergi ke kelas musik kemudian bermain sepeda di playground. Malamnya, sekitar pukul 01.30 dini hari, istri saya terbangun dan menyadari bahwa Joshe kesulitan bernafas. Dia hampir tidak merespons saat dibangunkan, dan bibirnya membiru. Dengan agak histeris dan ketakutan, kami lari ke rumah sakit anak terdekat (jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah kami). Saya membopong Joshe sambil berusaha membangunkan dia, tapi hampir tidak ada respons.

It is a nightmare. It is the worst night of our whole lives.

Sesampai di rumah sakit, para dokter dan perawat dengan luar biasa sigap menolong Joshe. Dia sempat membaik dan stabil, namun beberapa saat kemudian dia kembali kejang dan sulit bernafas. Akhirnya dokter memberi obat penenang untuk mencegah hal tersebut, dan memasang ventilator supaya Joshe bisa bernafas normal.

Dan di sanalah kami, hampir 5000 km jauhnya dari tempat asal kami (Surabaya), dari keluarga besar dan teman – teman dekat, dan kami hanya bisa menangis dan berdoa.

Recovery

Namun Tuhan bekerja luar biasa melalui tim paramedis dan obat – obatan. Sore harinya Joshe sudah stabil dan mulai sadar setelah pengaruh obat anestesi hilang. Keesokan hari, dia sudah bisa ngobrol dan mulai ceria kembali. Infus dan banyak peralatan lain sudah mulai dilepas, dan Joshe dipindah ke ward biasa. Di ward itulah kami menghabiskan hampir 4 minggu untuk recovery Joshe.

Selama masa pemulihan, Joshe hampir tidak diberi obat apa apa. Dia hanya diobservasi cairan keluar masuk, sodium level di darah, temperature, detak jantung, dan pengukuran dasar lainnya. Saya dan istri harus berbagi tugas untuk merawat dan menemani Joshe tidur di RS. Endah masih harus bekerja di pagi hari, sedang saya harus ke kampus untuk mengerjakan penelitian dan bekerja sebagai asisten. Sungguh 1 bulan yang menguras energi kami.

Ada beberapa hal yang meringankan beban kami. Setelah 1 minggu, cukup sering kami mendapatkan kesempatan untuk gate leave (keluar RS di siang hari dan baru kembali di malam hari), sehingga Joshe bisa pulang dan bermain di rumah. Selain itu, Joshe hampir selalu ceria di RS. Bahkan boleh dikatakan dia senang tinggal di sana :). Banyak perawat (plus teman – teman yang menjenguk) yang dengan ramah memperhatikan dia. Joshe bisa bermain dengan mainan, buku atau menonton televisi untuk mengisi waktu. Ada “sesuatu” yang mengisi hati Joshe dengan suka cita dan damai sejahtera.

Meet the syndrome

Banyak saudara dan teman kami yang menanyakan, “Joshe sakit apa?”. Well, berikut penjelasan singkatnya.

Di akhir tahun 2015, Joshe sempat tinggal di RS selama 1 minggu, dan setelah sangat banyak pemeriksaan, tim dokter memberitahu kami kalau Joshe menderita sindrom langka: ROHHAD (Rapid-onset Obesity with Hypothalamic dysregulation, Hypoventilation, and Autonomic Dysregulation). Sederhananya ada bagian otak pengatur fungsi otonom tubuh Joshe yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya saat tidur, Joshe kadang kesulitan untuk bernafas dengan leluasa. Tubuhnya juga tidak sensitif terhadap suhu panas maupun dingin. Penderita syndrome ini biasanya punya nafsu makan luar biasa, sehingga akibatnya akan mengalami obesitas (bersyukur 1 tahun terakhir Joshe bisa terkendali berat badannya). Indikator yang lain ialah level sodium di dalam darah yang fluktuatif.

Saya mencoba mencari tahu lewat Google dan menjadi sangat takut dan khawatir. Syndrome ini serius, langka, dan belum ditemukan obatnya. Alam bawah sadar saya menyangkal hal ini, karena menurut saya (dan istri) Joshe hanya kegemukan. Gejala – gejala lain yang ditunjukkan sebenarnya juga umum dialami anak kecil. Namun setelah kejadian Kamis dini hari kemarin, kami tidak bisa mengelak lagi, mungkin memang Tuhan mengijinkan Joshe memiliki syndrome ini.

Grief

Selama Joshe dirawat di rumah sakit, begitu banyak pertanyaan berseliweran di benak kami. Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan ini terjadi? Mengapa harus kami, mengapa harus Joshe? Apakah kesalahan atau dosa kami menyebabkan semua ini? Apakah kami salah dalam membesarkan Joshe sehingga dia memiliki syndrome langka ini? Bagaimana caranya kami membayar biaya pengobatan Joshe di sini? Dan seterusnya.

Sejak saat itu, semuanya menjadi berbeda. Saat bangun tidur di pagi hari, kadang saya masih tidak percaya bahwa anak kami menderita syndrome langka tersebut. Semua seperti terjadi tiba – tiba. Kami seperti berada dalam mimpi buruk, namun tidak kuasa untuk segera bangun. Saya dan istri sering kali harus saling menenangkan dan mendoakan, karena duka cita seperti bergiliran menghampiri kami.

Secara medis, kami tahu bahwa kami sangat “beruntung” karena Joshe bisa segera mendapat penanganan di RS. Namun demikian kami masih khawatir, apakah Joshe bisa kembali pulih seperti sedia kala? Pada minggu pertama dokter menyampaikan bahwa kondisi Joshe cukup sulit untuk ditangani. Ada banyak ukuran medis yang saat itu tidak cukup baik. Ada beberapa operasi yang kemungkinan harus dilakukan. Waktu itu, kami merasa seperti sedang disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Namun, atas kemurahan Tuhan, hal tersebut tidak terjadi.

Salah satu pertanyaan yang terngiang – ngiang di benak saya ialah: What’s the purpose of my life? Saya sadar semua pencapaian dalam karier, berapa banyak harta yang saya miliki, dan seterusnya, menjadi tidak berarti saat pribadi – pribadi terdekat dalam hidup saya harus menderita. Saya rela tidak mendapatkan gelar S3, kehilangan pekerjaan, kehilangan apapun, asal anak kami sembuh! Namun saya sadar bahwa tidak demikian cara Tuhan bekerja, dan dalam doa – doa lirih kami, kami yakin bahwa Tuhan punya rencana yang baik untuk Joshe dan keluarga kami.

Give thanks

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit kami mulai bisa melihat kebaikan Tuhan di tengah “musibah” yang kami alami. Kami bersyukur karena saya memperoleh kesempatan studi di Australia, sehingga Joshe bisa mendapat perawatan yang jauh lebih baik. Kami juga bersyukur karena, tanpa kami rencanakan, rumah kami sangat dekat dengan salah satu RS anak terbaik di Australia. Untuk biaya RS, kami juga berterima kasih pada Tuhan, karena asuransi kesehatan yang kami bisa menanggungnya (biaya kesehatan di sini bisa 10 kali lipat lebih mahal dibanding di indonesia). Dan seterusnya. Daftar kebaikan Tuhan ini masih berlanjut sampai sekarang. Kami merasakan bahwa Dia tidak meninggalkan kami.

Kami juga merasakan kebaikan teman – teman di sekitar kami. Mereka meluangkan waktu untuk menjenguk, membawakan makanan untuk kami atau mainan untuk Joshe. Begitu banyak saudara dan teman (di Australia dan Indonesia) yang juga ikut mendoakan, bahkan mengumpulkan dana, untuk pemulihan kesehatan Joshe. Kami terharu. Sekali lagi kami bersyukur pada Tuhan untuk kemurahan hati mereka semua.

Selama 4 minggu tinggal di rumah sakit, kami juga menikmati bagaimana para dokter (bagian Endocryne) dan perawat dengan sungguh – sungguh dan penuh empati merawat Joshe. Kami merasakan bagaimana mereka berusaha membesarkan hati dan meringankan beban kami. Mereka sangat sadar bahwa kami lelah secara fisik, khawatir, bingung, dan seterusnya. Tidak hanya ramah dan sabar, mereka benar – benar peduli pada Joshe dan kami.

Karena mengetahui bahwa saya hanyalah mahasiswa yang hidup dengan beasiswa, para dokter juga berusaha sebisa mungkin untuk membantu kami secara finansial terkait biaya kesehatan Joshe (masih ada biaya di luar rawat inap yang harus kami siapkan). Mereka menulis surat ke direktur RS supaya tes darah Joshe digratiskan. Mereka menggratiskan biaya kontrol. Bahkan mereka memberikan iStat, alat untuk menganalisa darah seharga belasan ribu dollar, untuk dapat kami bawa pulang, sehingga Joshe tidak harus datang ke RS setiap hari untuk tes darah. Kami benar – benar kehabisan kata – kata untuk menggambarkan kemurahan Tuhan melalui mereka.

Hope

Setelah menyadari campur tangan Tuhan yang luar biasa, kami mulai sadar bahwa ternyata masih ada harapan. Meski secara medis belum ada obat yang bisa menyembuhkan Joshe, namun masih ada Tuhan yang maha kuasa. Perlahan – lahan kami juga belajar bahwa Tuhan punya agenda yang lebih besar untuk kami sekeluarga: supaya kami makin dekat dan bergantung kepadaNya. Kami menjadi lebih peka dan aware bahwa hidup kami ini benar – benar sementara. Bahwa semua orang sebenarnya ada dalam ketidakpastian yang sama. Bahwa Tuhanlah yang menentukan hidup manusia. Tinggal bagaimana kita mengisi hidup kita, dengan hal – hal yang bermakna, atau yang sia – sia.

Kami juga mulai melepaskan keinginan bahwa Joshe harus sembuh segera (instant). Bukan kami tidak percaya bahwa Tuhan mampu melakukannya, namun Tuhan tidak harus mengikuti keinginan dan agenda kami. Dia akan menyembuhkan Joshe pada waktuNya. Sebagai gantinya, kami memohon kekuatan dan kesabaran untuk mengarahkan dan menemani Joshe dari hari ke hari di jalanNya.

Pelajaran lain yang kami dapatkan ialah kondisi yang kami hadapi bukanlah pertanda bahwa Tuhan murka dengan kami (saya pribadi percaya bahwa dosa saya sudah diampuni Tuhan), namun cara Tuhan untuk mendewasakan kami. Seperti emas yang harus dimurnikan dengan cara diletakkan di perapian yang menyala – nyala, demikian juga manusia harus dimurnikan melalui tantangan dan kesulitan hidup. Di saat kita menderita, masihkah kita mencari Tuhan dan meninggikan DIa?

Dengan pengalaman ini, kami menjadi tahu bagaimana beratnya menjadi orang tua dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus secara medis. Berat dari sisi waktu tenaga, dan finansial. Berat karena menyadari bahwa mungkin anak kita tidak bisa seperti anak – anak lain. Dan seterusnya. Namun demikian, pengalaman kami ini juga memungkinkan kami untuk menemani dan melayani orang – orang yang berada dalam situasi yang sama dengan kami. Berikut kutipan dari buku Timothy Keller yang dengan tepat menggambarkan situasi tersebut:

There is no way to know who you really are until you are tested.
There is no way to really empathize and sympathize with other suffering people unless you have suffered yourself.
There is no way to really learn how to trust in God until you are drowning.

New life

Hari ini sudah 10 minggu lebih Joshe meninggalkan RS. Setiap hari kami punya rutinitas baru. Mengantar Joshe ke RS untuk tes darah, atau melakukannya sendiri di rumah di akhir minggu. Kami harus mengukur cairan masuk (minum) dan keluar (air seni) untuk memastikan cairan dalam tubuh Joshe seimbang. Kami juga harus peka kapan dia merasa terlalu dingin atau panas (atau mengukur suhu tubuhnya)  sehingga bisa memberikan pakaian yang tepat. Di malam hari, sejak tahun lalu, Joshe harus tidur menggunakan CPAP untuk membantu supaya dia bisa bernafas dengan lega. Kami juga memasang oximeter saat Joshe tidur untuk mengetahui sedini mungkin jika Joshe kesulitan bernafas. Sepertinya banyak dan rumit, namun kami sudah cukup enjoy dengan kebiasaan baru kami.

Berkat kemurahan Tuhan, saya bisa melanjutkan penelitian S3 saya. Hampir 2 minggu lalu saya ke Brisbane untuk presentasi paper, yang draftnya saya kerjakan di RS sambil menemani Joshe. Tuhan juga bermurah hati (melalui kerja keras serta usaha dokter memberikan iStat pada kami) dengan memberi kami kesempatan untuk berlibur ke Hobart minggu lalu. Rileks sejenak setelah beberapa bulan yang melelahkan. Sesuatu yang kami tidak bayangkan 2 bulan yang lalu.

Pada akhirnya, kami belajar bahwa inilah hidup kami yang baru. This is our new normal. Mungkin tidak senyaman sebelumnya (karena tujuan Tuhan memang bukan membuat kami nyaman), namun lebih berarti, lebih bermakna, sesuai rencanaNya. Kami juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kami hanya bergantung padaNya, pada kesetiaanNya dari hari ke hari. Dia tahu apa yang terbaik!

PS: Ayat Alkitab dari 1 Petrus 1:6-7 merangkum pengalaman kami di atas

]]>
https://handywicaksono.web.id/2016/12/19/a-burning-furnace-in-our-life/feed/ 2 639
How does a Ph.D. student learn? https://handywicaksono.web.id/2016/02/12/how-does-a-ph-d-student-learn/ https://handywicaksono.web.id/2016/02/12/how-does-a-ph-d-student-learn/#comments Fri, 12 Feb 2016 01:15:19 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=452 Tanpa terasa, tahun ini ialah tahun ke 3 saya menempuh studi Ph.D. di UNSW, Australia. Saya ingin berbagi hal – hal unik tentang natur studi Ph.D. yang tidak pernah saya pikirkan sebelum menjalaninya.

phd-learn

Break out of the undergraduate mentality

Nasehat yang baik ini dikemukakan Jason Hong (CMU) [1]. Jika mahasiswa undergraduate hanya perlu mempelajari materi yang telah disampaikan dosen di kelas, maka mahasiswa Ph.D. harus mempelajari materi yang jauh lebih luas, bahkan yang tidak pernah disentuh pembimbingnya. Jika mahasiswa undergraduate  mendapat tugas mingguan dan mengikuti ujian di akhir semester, maka mahasiswa Ph.D. hanya akan melakukan defense dan atau submit the thesis setelah 3 – 4 tahun masa studinya.

Intinya, mahasiswa undergraduate dibimbing dengan detail oleh dosen untuk memahami materi dalam jangka pendek, sedang mahasiswa Ph.D. hanya mendapat arahan umum dan harus melakukan riset jangka panjang yang menghasilkan kontribusi original pada ilmu pengetahuan.

Perbedaan ini kadang membuat mahasiswa Ph.D. merasa “diabaikan” pembimbingnya, “tersesat” di hutan belantara bidang ilmu tertentu, dan tidak tahu kemana arah penelitian yang dilakukan. Untuk itu mahasiswa Ph.D. perlu beradaptasi dan keluar dari mentalitas mahasiswa undergraduate.

Own and love your research

Salah satu nasehat lain dari Jason Hong ialah perlunya “own your research” [1]. Saat mahasiswa Ph.D. sudah memilih topik penelitian (atau memperoleh topik dari pembimbingnya), maka dia harus merasa memiliki topik tersebut. Hal ini berarti memahami mengapa topik ini menarik, mengapa menggunakan metode tertentu dalam topik ini, apa kekurangan dan kelebihan metode tersebut, dan seterusnya.

Menurut saya pribadi, salah satu daya dorong untuk “own your research” ialah “love your research”. Meski anda berasal dari bidang yang berbeda, meski pendekatan yang anda (dan pembimbing) pilih bukanlah favorit pribadi anda, tidak ada pilihan lagi selain: cintailah topik anda. Rasa senang ini menimbulkan sangat banyak efek positif untuk penelitian anda:

  • Memunculkan rasa ingin tahu
  • Memberi energi untuk (rajin) meneiliti
  • Menghilangkan (minimal mengurangi) kebosanan
  • Menambah kepercayaan diri saat bertemu pembimbing atau peneliti lain

“Merasa bodoh” adalah hal yang wajar (dan penting)

Hal yang agak aneh namun umum dirasakan oleh setiap mahasiswa Ph.D. ialah “merasa bodoh”.  Penelitian adalah proses menemukan atau memperluas keilmuan baru, jadi  hampir pasti anda akan menyadari betapa banyak yang anda tidak tahu. Selain itu, benchmark anda bukan lagi mahasiswa sekelas, tapi mahasiswa di seluruh dunia. Semakin banyak belajar dan membaca penelitian mereka, anda akan semakin sadar bahwa (sekali lagi) banyak yang anda tidak tahu.

Definisi “pintar” akan menjadi sangat berbeda saat mengambil studi S3. Di satu sisi, hal ini sedikit melemahkan, karena tidak ada lagi pengakuan orang lain bahwa anda “pintar”. Namun di sisi lain, ini pengalaman yang mendewasakan karena mendorong kita untuk makin rendah hati. Rendah hati menjadi kata kunci yang baik bagi peneliti, karena tanpa itu, anda akan merasa tahu segalanya, sehingga anda akan berhenti belajar.

Martin A. Schwartz [2] dalam salah satu essay-nya menyampaikan pentingnya productive stupidity bagi peneliti di bidang science. Menurut dia, jika seorang peneliti menyadari bahwa dirinya bodoh atau tidak tahu tentang suatu hal, maka hal ini akan mendorong dia untuk fokus memecahkan masalah tersebut dan terkadang tidak menerima begitu saja hal yang sebelumnya dianggap benar.

Dia menyampaikan: “One of the beautiful things about science is that it allows us to bumble along, getting it wrong time after time, and feel perfectly fine as long as we learn something each time.” Tidak masalah untuk berbuat kesalahan dalam meneliti. Tidak masalah juga jika kita merasa bodoh. Asal kita belajar hal yang baru setiap waktu.

Kepandaian bukanlah kunci utama

Banyak orang menganggap bahwa kunci sukses mahasiswa Ph.D. ialah kepandaiannya. Jika seseorang lulus undergraduate dengan nilai tinggi, tentunya ia akan sukses mendapatkan gelar Ph.D. Namun banyak ahli yang membantah hal ini. Matt Might (University of Utah) menyampaikan bahwa kuncinya ialah kegigihan, keuletan dan ketekunan [3].

Saya pribadi sangat setuju dengan hal ini. Pertama, karena pada dasarnya saya bukan orang yang pandai (saya hanyalah mahasiswa dengan nilai rata – rata saat undergraduate). Kemudian saat menjalani studi Ph.D., saya baru menyadari luasnya bidang penelitian yang saya tekuni dan sangat banyak ketidaktentuan dalam bidang tersebut. Satu satunya cara untuk memecahkan masalah ialah dengan tekun meneliti hari demi hari.

Siklus berikut saya alami puluhan kali:

  1. Belajar / memahami teori
  2. Menerapkan / membuat program
  3. Stuck!
  4. Back to step 1

Tanpa ketekunan dan keuletan, siklus di atas sangat membosankan dan menguras energi. Namun lama kelamaan saya menyadari, jika saya terus mencari jawaban dengan sungguh – sungguh, maka saya akan menemukan jawaban dari masalah tersebut. James Hayton [4] menyatakan bahwa: “if I stick with the problem for a long time, then (somehow) I will find the solution”.

Matt Might [3] menyatakan hal serupa: “If you persevere to the end of this phase, your mind will intuit solutions to problems in ways that it didn’t and couldn’t before. You won’t know how your mind does this. (I don’t know how mine does it.) It just will.

Bukan sprint tapi marathon

Studi Ph.D. seperti lari marathon, bukan sprint. Untuk itu kita perlu memiliki mental pelari marathon, bukan pelari sprint. Tidak ada gunanya (bahkan berbahaya) jika kita berlari cepat di menit – menit awal, hanya untuk kehabisan tenaga sebelum melewati garis finish. Kemajuan – kemajuan kecil namun teratur akan lebih bermanfaat ketimbang lompatan besar namun kemudian berhenti. Untuk itu kita perlu menjaga semangat (motivasi) dan energi kita. Namun bagaimana caranya?

Inger Mewburn dalam blog populernya menyampaikan konsep ini [5]. Saat membaca blog tersebut saya tertarik dengan salah satu pengunjung yang memberikan komentar berikut

Jean Russell says: Three pieces I seem to work with:
1) to celebrate what you have achieved rather than worry about what you haven’t.
2) once the plan is made look at the next section and only the next section.
3) As long as it is moving it is fine.

Merayakan apa yang telah kita capai, lebih dari apa yang belum kita capai. Membuat rencana untuk satu langkah ke depan, dan tidak mengkhawatirkan langkah – langkah berikutnya. Selama kita membuat kemajuan (sekecil apapun), it is fine.

Kekhawatiran dan ketakutan sering menggerogoti energi kita untuk meneliti. Sebaliknya, mengucap syukur pada Tuhan dan merayakan keberhasilan (sekecil apapun) akan menambahnya berlipat kali ganda. Seperti ayat alkitab yang berkata: “sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari“.

Sumber:

  1. http://cacm.acm.org/magazines/2013/7/165494-phd-students-must-break-away-from-undergraduate-mentality/fulltext
  2. http://jcs.biologists.org/content/121/11/1771
  3. http://matt.might.net/articles/successful-phd-students/
  4. James Hayton, “PhD: An uncommon guide to research, writing & PhD life
  5. http://thesiswhisperer.com/2012/02/09/the-piece-of-dissertation-wisdom-that-made-me-want-to-scream/

]]> https://handywicaksono.web.id/2016/02/12/how-does-a-ph-d-student-learn/feed/ 5 452 Mengapa studi Ph.D.? https://handywicaksono.web.id/2016/02/03/mengapa-studi-ph-d/ https://handywicaksono.web.id/2016/02/03/mengapa-studi-ph-d/#respond Wed, 03 Feb 2016 00:18:32 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=428 Kadang orang bertanya pada saya, “Mengapa kamu kuliah tinggi – tinggi? Kenapa harus melanjutkan studi sampai Ph.D.?”

phdJawaban yang naif mungkin : supaya mendapat gaji yang lebih besar, lebih keren (atau percaya diri), karena ada embel – embel doktor di nama kita, karena “dianjurkan” orang tua, atau sederet alasan lainnya.

Untuk saya jawabannya cukup mudah, karena saya adalah dosen maka adalah wajib hukumnya untuk melanjutkan studi sampai S3 sebagai bentuk tanggung jawab terhadap profesi yang diberikan Tuhan ini.

Namun jika alasan saya hanyalah “formalitas” karena saya adalah seorang dosen, hal tersebut kurang kuat untuk mendorong saya melewati masa yang berat (namun memuaskan) selama studi Ph.D. Saya mencoba menggali lebih dalam dan menemukan beberapa jawaban berikut.

Berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan

Di awal masa studi, profesor saya beberapa kali mengatakan bahwa penelitian saya haruslah memberi kontribusi pada ilmu pengetahuan bukan hanya di Australia, tapi di dunia! Hal ini berarti saya harus banyak membaca hasil penelitian para peneliti lain untuk menemuan state of the art di bidang yang saya tekuni.

Matt Might (profesor computer science di University of Utah) memberikan gambaran tentang studi Ph.D. dengan sangat baik. Berikut ini salah satu diagramnya.

PhDKnowledge.010source : http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/

Untuk bisa mencapai tahapan “break the boundary” di atas tentu tidak mudah. Mahasiswa Ph.D. harus bekerja keras untuk menguasai teori dasar,  memahami hasil penelitian terbaru, mengembangkan ide sampai mengimplementasikannya dalam bentuk eksperimen. Semua tahapan ini memerlukan ketekunan dan kegigihan.

Salah satu bahan bakar utama untuk memompa semangat belajar ini ialah rasa ingin tahu dan kecintaan pada suatu bidang ilmu. Jika anda tidak menyukai bidang ilmu anda, atau tidak merasa ingin tahu tentang perkembangan bidang tersebut, maka hampir tidak mungkin bagi anda untuk menghasilkan “breakthrough” dalam penelitian anda.

Dalam beberapa posting saya, saya sering menyinggung frase “jatuh cinta karena terbiasa”, karena tanpa “cinta”, saya yakin penelitian akan membosankan dan tidak bisa dinikmati.

Scratch your own itch

Saat anda sudah mencintai bidang ilmu anda, biasanya research problems akan bermunculan di mana mana. Anda menjadi lebih mudah mempertanyakan sesuatu. Anda akan punya banyak ide untuk menyelesaikan suatu masalah. Terkadang anda akan bangun di malam hari, atau membuka catatan di malam Minggu, karena ada ide atau pemikiran menarik yang amat sayang jika tidak direkam.

Ada pepatah menarik  yang berbunyi “scratch your own itch”. Dalam penelitian, hal ini menggambarkan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap suatu masalah sehingga memberi dorongan yang kuat untuk memahami (dan mungkin memecahkan masalah itu). Seperti rasa gatal akut yang hanya bisa diredakan dengan menggaruknya :).

Saat seorang peneliti sampai di tahapan ini, saya yakin bahwa ia akan dapat memecahkan masalah tersebut (atau paling tidak menghasilkan satu langkah maju).

Berkontribusi untuk memecahkan masalah dunia

Ada kalanya dorongan untuk meneliti tidak datang dari dalam diri sendiri, namun dari orang lain. Kita hidup di dunia dengan segala permasalahannya. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan, kemiskinan, perubahan iklim yang dramatis, dan lain – lain. Adalah kebahagiaan yang tidak terkira saat hasil penelitian kita dapat membantu orang lain di sekitar kita.

Matt Might (University of Utah) menuliskan posting yang luar biasa tentang bagaimana dia mendapatkan semangat dan energi untuk meneliti karena ingin menyembuhkan anaknya yang menderita penyakit langka. Perjuangan yang sifatnya pribadi tersebut, tanpa dia sangka, memberi impact dengan skala nasional, bahkan internasional. Bukan hanya anaknya yang berpotensi mendapat pengobatan, namun anak – anak di seluruh dunia. Hampir seperti kebetulan, dia juga mendapat pengakuan atas kariernya sebagai profesor dan peneliti.

Sebagai ringkasan, Matt menyampaikan  “find a problem where your passions intersect society’s needs. The rest will follow.” (http://matt.might.net/articles/tenure/)

Untuk belajar menjadi peneliti yang baik

Studi Ph.D. sejatinya adalah fase pelatihan bagi seseorang untuk menjadi peneliti yang sebenarnya. Kita belajar bagaimana merumuskan suatu masalah, mempelajari literatur terkait untuk menemukan kebaruan, menulis dengan gaya akademis, melakukan eksperimen, menganalisa data yang diperoleh, mempresentasikan hasil penelitian, mebangun jaringan dengan penelit yang lain, dan seterusnya. Pendeknya, hampir semua skill yang diperlukan seorang peneliti kita pelajari di sini. Mungkin itu sebabnya staf pengajar di kampus luar negeri harus selalu bergelar S3.

Saya yakin setiap orang yang menempuh studi S3 akan memiliki cara pandang yang baru tentang penelitian dan bagaimana melakukannya dengan benar.

Ekspresi tanggung jawab pada Tuhan

Last but not least, untuk saya pribadi, studi S3 ini adalah tanggung jawab pribadi saya pada Tuhan. Tentu saya juga bertanggung jawab pada pemberi beasiswa (pemerintah Indonesia dan universitas tempat saya bekerja, UK Petra), namun yang terutama ialah pada Tuhan. Jika saya telah diberi kepercayaan (dari Tuhan) untuk menjadi pendidik, maka saya harus memberikan yang terbaik, salah satunya dengan mengambil studi S3.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

]]>
https://handywicaksono.web.id/2016/02/03/mengapa-studi-ph-d/feed/ 0 428
From Surviving to Enjoying My Research https://handywicaksono.web.id/2015/10/21/from-surviving-to-enjoying-my-research/ https://handywicaksono.web.id/2015/10/21/from-surviving-to-enjoying-my-research/#comments Tue, 20 Oct 2015 14:03:02 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=436 Sudah lama saya ingin menulis tentang penelitian saya dalam bahasa yang sederhana di  blog ini, namun belum ada ide yang pas … sampai hari ini. Saya ingin menyampaikannya sambil berbagi tentang bagaimana cara saya untuk menyukai (dan menikmati) topik penelitian saya.

phd021111s.gif

Topik penelitian saya

Sebelumnya saya ingin “mengaku dosa”: saya tidak menemukan sendiri topik penelitian saya. Setelah setahun lebih bergelut dengan (sekitar) lebih dari 100 paper, saya tetap tidak dapat menemukan topik yang cocok dengan saya dan “direstui” oleh profesor. Saya hanya menemukan “arah”, bahwa penelitian saya akan terkait dengan penerapan machine learning di robot dengan memanfaatkan physics simulator untuk mempercepat proses belajar. Namun sampai Annual Progress Review (APR) yang pertama, saya tidak memiliki research problem yang kuat untuk dipecahkan.

Beberapa hari sebelum sidang APR, profesor saya secara literal menyatakan dengan “berat hati” mengusulkan research problem yang bisa saya gunakan. Pada waktu yang sama beliau sedang mengajukan research grant yang (entah kebetulan atau tidak) menggunakan teknik yang saya ajukan di proposal. Mengapa dengan “berat hati”? Karena di Australia, sangat umum bagi mahasiswa Ph.D. untuk memilih topik penelitian sendiri dengan bebas, tidak harus mengikuti arahan profesor. Mungkin juga beliau agak kecewa dengan kemajuan saya. Apapun alasannya, untuk saya pribadi, arahan ini sangat penting artinya (meski di dalam hati saya merasa gagal dan khawatir),  namun karena keterbatasan pemahaman yang mendalam (akibat lintas jurusan) plus durasi beasiswa yang sangat singkat, saya menyetujui untuk mengikuti arahan beliau.

Berikut ini judul proposal penelitian saya :

A Relational Approach to Tool Creation for Robots

Secara sederhana, topik penelitian saya ialah mengembangkan algoritma untuk robot supaya mampu belajar menggunakan tool untuk menyelesaikan tugas tertentu, dan saat tool yang sesuai tidak tersedia, robot dapat mengusulkan desain tool baru yang akan dicetak dengan 3D printer. Proses learning dan reasoning dilakukan pada relational representation (representasi yang berakar pada teori logika dan human cognition).

Mungkin karena topik penelitian tidak saya pilih sendiri (dan bukan favorit saya), di saat saya mengalami kesulitan dalam penelitian (stuck), kadang muncul pemikiran: “saya salah memilih topik”, “topik ini tidak menarik”, “topik ini tidak baru dan tidak akan laku untuk dipublish”, “saya membuang – buang waktu dengan pendekatan yang tidak cocok dan terlampau rumit”, dst.

Di fase ini, saya berada di survival mode. Bagaimana caranya supaya saya bisa survive, terus maju sedikit demi sedikit dalam melakukan penelitian, tanpa bisa menikmatinya. Untuk sampai pada tahap enjoy meneliti, saya melewati beberapa tahap perubahan cara pandang tentang robot sebagai topik utama penelitian saya. Begini ceritanya.

Robot dari sisi pandang Teknik Elektro

Latar belakang pendidikan saya ialah Teknik Elektro. Bagi orang Elektro umumnya, robot ialah sistem mekatronika yang dapat direalisasikan secara fisik. Performa robot akan sangat bergantung pada kehandalan perangkat keras (sistem elektronika) dari robot tersebut. Sistem kendali pada robot umumnya ditujukan untuk mendapatkan hasil yang optimal, dapat dibuktikan secara matematis, dan sangat spesifik untuk tugas tertentu. Tidak jarang robot didesain dari nol, dan diwujudkan secara praktis untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Robot dari sisi pandang Computer Science

Saat saya “berpindah” ke jurusan Computer Science & Engineering di UNSW, perangkat keras robot bukanlah hal yang utama. Sangat sering robot yang digunakan ialah robot yang siap pakai dari vendor (Nao, Darwin, Baxter, dan lain – lain), sehingga peneliti cukup fokus pada pengembangan algoritma. Bahkan ada kalanya robot hanya disederhanakan sebagai satu “titik” yang pergerakannya dikendalikan oleh algoritma tertentu. Untuk peneliti computer science, efisiensi dan optimasi algoritma yang digunakan untuk mengendalikan robot sangatlah penting.

Di tahun pertama Ph.D., saya membayangkan bahwa sisi pandang inilah yang akan saya gunakan. Sehingga paper – paper yang saya baca selalu terkait dengan pengembangan learning algorithm yang efisien untuk robot. Topik – topik berikut saya usulkan untuk menjadi tema penelitian saya, dengan asumsi bahwa pembimbing saya akan menyetujuinya:

  • Towards mental imagery for reinforcement learning robot
  • Planning and Reasoning by the Mobile Manipulation Robot that Learns from Experiences
  • Learning to grasp the occluded object

Namun ternyata saya salah. Profesor menolak topik – topik tersebut dan menyatakan : “topik ini tidak menarik”. Setelah berbulan – bulan mencari jawabannya, saya baru menyadari bahwa ternyata ada sisi pandang lain tentang robot yang belum saya ketahui.

Robot dari sisi pandang Artificial Intelligence (AI)

Selama ini saya mengira bahwa AI adalah bagian dari computer science. Ternyata, jika dirunut dari sejarahnya, AI berkembang secara mandiri sebagai bidang ilmu baru pada masanya. Hanya pada sistem pendidikan modern, AI dikelompokkan dalam bidang computer science, sehingga beberapa isu seperti efisiensi dan optimasi algoritma ikut mewarnai perkembangannya.

Jika dirunut ke paper Alan Turing yang dianggap sebagai founding father AI, tujuan AI ialah mengembangkan agent yang memiliki kecerdasan serupa manusia. Tujuan ini cukup kontroversial karena seolah ingin menyamai Tuhan dengan menciptakan manusia, namun secara sederhana bisa diartikan bahwa AI ingin mengambil inspirasi dari cara berpikir, kognisi manusia untuk diterapkan pada agent buatan (misalnya robot). Bidang ini sangat dekat dengan ilmu cognitive psychology atau cognitive science.

Bagi peneliti AI yang memegang tujuan awal bidang ini, hal yang paling menarik ialah bagaimana agent dapat memiliki kecerdasan di level yang sama (atau mendekati manusia). Kecerdasan ini sering disebut reasoning ability (bukan hanya learning ability). Karena itu robot dengan perangkat keras yang handal atau algoritma yang efisien menjadi tidak menarik, selama robot tersebut tidak punya kecerdasan tingkat tinggi seperti layaknya manusia.

Setelah memahami hal ini, barulah saya bisa melihat menariknya topik penelitian saya. Sepanjang pengetahuan saya, belum ada penelitian sejenis di bidang tool creation oleh robot. Mengapa? Karena menciptakan tool baru memerlukan high level reasoning yang hanya bisa dilakukan pada relational atau symbolic representation. Sebagian besar (mungkin lebih  dari 90%) peneliti di bidang robot menggunakan probabilistic representation, karena efisien dan akurat, namun tidak memiliki kemampuan reasoning.

From surviving to enjoying my research

Setelah memiliki cara pandang terakhir, saya mulai dapat menghargai value dari penelitian saya dan menikmati melakukannya. Rasa ingin tahu mulai muncul. Rasa puas dan senang saat menemukan jawaban atau berhasil menjalankan program menjadi bagian dari penelitian saya. Tentu ada waktu dimana saya stuck dan tidak ada progress, namun saya yakin bahwa esok hari masih ada harapan (dan semangat) untuk melanjutkannya.

Saya mulai mengirimkan poster dan paper ke beberapa conferences dan, bersyukur pada Tuhan, diterima. Salah satu reviewer menuliskan review yang pahit (tapi manis) berikut:

This was a frustrating paper to review – one of the most interesting topics and potentially very relevant, but with research that seems very preliminary and incomplete. ……… I think if the authors pursue this line of work and get a complete end-to-end demo, I can see this as a best paper at a future international robotics or learning conference.

Hasil eksperimen saya yang masih sangat awal (plus bahasa Inggris yang agak kacau) mungkin membuat sang reviewer frustasi. Namun saya bersyukur karena di akhir review beliau menyiratkan adanya potensi yang baik dalam penelitian yang saya kerjakan. It makes me enjoy my research more!

]]> https://handywicaksono.web.id/2015/10/21/from-surviving-to-enjoying-my-research/feed/ 4 436 Confirmed or not confirmed? https://handywicaksono.web.id/2015/07/05/confirmed-or-not-confirmed/ https://handywicaksono.web.id/2015/07/05/confirmed-or-not-confirmed/#comments Sun, 05 Jul 2015 05:54:30 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=418 Setiap mahasiswa Ph.D. harus melalui fase konfirmasi sebagai persetujuan bahwa ia layak untuk meneliti sebagai mahasiswa Ph.D. Hal ini seperti layaknya seorang pelari yang bersiap untuk berlari dari posisi Start. Di posting ini, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya melalui fase konfirmasi, dan untuk saya,  seperti biasa, fase tersebut tidak mudah untuk dilewati.

usain-bolt-starting-to-run-wallpaper-53e3e83a83fd8

Tentang tahap konfirmasi

Di UNSW, fase ini ditentukan dari hasil sidang Annual Progress Review (APR) yang pertama. Ada 3 hasil yang mungkin didapatkan : satisfactory, marginal satisfactory, dan unsatisfactory. Untuk APR pertama, hasilnya harus satisfactory, jika tidak mahasiswa harus melakukan sidang ulang 3 bulan berikutnya. Hal yang “menakutkan” ialah jika mahasiswa gagal dalam sidang ulang, ada kemungkinan universitas akan mencabut statusnya sebagai mahasiswa.

Dalam APR, mahasiswa harus menyiapkan proposal penelitian, mempresentasikan di depan panel, dan menjawab pertanyaan dari panel. Hal yang terberat (dan terpenting) tentunya ialah mempersiapkan proposal penelitian, karena dari sini akan terlihat apakah mahasiswa menguasai bidang keilmuan yang ditekuni, memahami state of the art dari bidang tersebut (melalui literature review yang komprehensif), dan dapat menemukan novelty dari penelitian yang direncanakan ke depan.

Persiapan yang berat

Seperti saya tuliskan di posting sebelumnya, saya mengalami kesulitan untuk menentukan arah (dan novelty) penelitian karena latar belakang keilmuan yang berbeda. Bahkan setelah saya memutuskan untuk mengikuti arahan profesor, masih ada kesulitan lain, yaitu menguasai bidang yang baru tersebut. Saya harus “melupakan” puluhan paper yang sudah saya pelajari di 6 – 9 bulan pertama (tentang robot control, reinforcement learning, dan metode statistical learning lainnya)  dan mengawali mempelajari banyak paper di bidang yang baru tersebut (logical concept, relational learning, symbolic planning, etc.). Bahkan saya baru mulai mempelajari bahasa pemrograman utama yang akan saya gunakan (PROLOG) di bulan November tahun lalu. Saya tertinggal cukup jauh.

Setelah hiruk pikuk tugas kuliah (dan menjadi asisten) di semester 2, saya mulai fokus sepenuhnya untuk mengejar ketertinggalan tersebut dan bersiap menghadapi APR 1 di akhir Februari 2015. Saat itu saya tidak bisa berdiskusi leluasa dengan Profesor untuk mempertajam ide penelitian, karena satu hal sederhana : saya belum menguasai dasar dari bidang ilmu tersebut. Sebulan sebelum APR, akhirnya saya menyelesaikan draft pertama proposal saya dan mengirimkannya ke pembimbing. Hal yang saya tidak perhitungkan ialah profesor umumnya menghadiri konferensi atau kegiatan akademik lainnya di hari libur kuliah seperti waktu itu. Profesor saya pergi ke beberapa negara selama 2 – 3 minggu. Email saya tentang draft proposal tidak dibalas oleh beliau.

Saat menunggu, banyak sekali pikiran negatif yang berkecamuk di kepala saya : “mengapa saya dulu tidak segera mempelajari bidang ini?”, “apakah profesor dengan sengaja mengabaikan penelitian saya?”, “bagaimana jika APR saya gagal karena kurang persiapan?”, dan lain – lain. Saya merasa sangat memerlukan bantuan profesor untuk mempertajam arah dan kebaruan penelitian di bidang yang baru buat saya ini. Dan waktu terus berjalan. Akhirnya profesor datang untuk berdiskusi tentang proposal (dan presentasi) saya 1 minggu hari sebelum APR! Dalam waktu singkat saya revisi proposal dan slides presentasi saya. Namun, ketua tim panel merasa tidak nyaman dengan hal ini (karena proposal dan dokumen lain belum beliau terima) dan memutuskan untuk memundurkan sidang beberapa hari kemudian.

Fail!

Sidang APR 1 akhirnya berjalan (25 Februari 2015), situasi sudah agak negatif karena kejadian – kejadian sebelumnya. Beberapa teman Ph.D. yang lain mengatakan, asal pembimbing mendukung, maka APR akan berjalan lancar. Profesor saya sangat mendukung saya meski progress saya lambat. Bahkan dalam sidang, beliau banyak membantu menjelaskan beberapa konsep pada tim panel (yang sama sekali tidak meneliti di bidang robotika). Saya sendiri sangat tegang dan merasa kurang confidence (karena pemahaman yang terbatas dan kurang bimbingan). Setelah sidang selesai, saya diberitahu ketua tim penguji, bahwa hasilnya kurang memuaskan, namun terlalu negatif untuk mendapatkan marginal satisfactory. Beliau hanya menyampaikan saya perlu closely work together with my supervisor selama 3 – 6 bulan ke depan, dan tidak perlu ujian ulang. Saya merasa sedikit lega (meski kurang puas) dan sempat memberitahu keluarga dan teman bahwa saya berhasil lulus di sidang APR.

Sekitar satu bulan kemudian, saya mendapat kabar mengejutkan dari ketua tim panel : saya mendapatkan hasil marginal satisfactory dan harus melakukan ujian ulang! Beliau (secara tersamar) meminta maaf karena perbedaan hasil ini dikarenakan ada masukan lain dari koordinator postgraduate di jurusan kami. Dengan berat hati (dan rasa malu) saya menerimanya, dan mempersiapkan sidang APR berikutnya. Saat itu mulai terpikirkan bagaimana jika saya gagal di sidang berikutnya dan harus pulang ke Indonesia. Hmm..

Blessing in disguise

Untuk saya, hal terberat untuk kembali mempersiapkan diri ialah perasaan malu, tidak percaya diri dan takut (kembali) gagal. Namun setelah berdoa dan merenungkan Firman, saya diyakinkan bahwa Tuhan pegang kendali atas seluruh hidup saya dan Dia tidak akan meninggalkan saya. Kemudian saya mulai memikirkan strategi yang lebih baik untuk menghadapi APR berikutnya. Dari evaluasi pribadi, hal yang perlu saya perbaiki ialah frekuensi dan kedalaman komunikasi dengan profesor. Hal ini agak sulit dibenahi karena profesor saya bukan orang yang suka dengan jadwal yang rigid. Beliau lebih bersifat spontan dan mengalir.

Namun rupanya kegagalan APR saya memberi blessing in disguise (berkah tersembunyi) untuk saya, karena mau tidak mau, profesor memberi perhatian yang jauh lebih besar pada saya. Saya pribadi yakin Tuhan juga melembutkan hati profesor. Sebelum saya mengambil langkah, beliau berinisiatif mengajak saya berdiskusi lebih jauh dan memberi masukan – masukan yang jauh lebih tajam. Saya yang mulai memahami bidang ilmu baru ini sedikit banyak bisa mengimbangi beliau dalam berdiskusi.

Hal lain yang menolong saya ialah pada waktu yang belum terlalu lama, profesor mengajukan research grant dengan topik yang sebagian besar berhubungan dengan topik penelitian saya. Saya segera menyetujui untuk bergabung dalam pengerjaan topik ini. Ditambah frekuensi bertemu seminggu sekali (kebetulan saya menjadi asisten kuliah profesor semester ini), membuat proses bimbingan berjalan baik.

Selain memperbaiki proses bimbingan, saya juga harus memperbaiki proposal saya. Dengan tambahan waktu 3 bulan, saya kembali mengevaluasi proposal saya dan menemukan banyak sekali kelemahan dalam content dan metode penulisan. Saya jadi bisa bersyukur karena penundaan ini membuat saya dapat menulis proposal dengan lebih baik. Demikian juga dengan presentasi. Tidak seperti APR yang pertama, kali ini profesor benar – benar membimbing saya dengan sangat detail.

Finally..

Sidang APR yang ke dua pun tiba (28 May 2015) . Saya pribadi merasa bahwa kali ini saya dapat menjelaskan dengan jauh lebih baik dan menjawab pertanyaan tim panel dengan lebih jelas. Profesor saya tidak terlalu banyak membantu kali ini, karena saya sudah jauh lebih paham dari APR sebelumnya. Di akhir sidang, sangat berbeda dengan sidang pertama, tim panel terlihat senang dan lebih ramah :), bahkan melemparkan beberapa joke, dan dengan yakin mereka menyatakan bahwa hasil sidang saya satisfied, dan saya confirmed sebagai mahasiswa Ph.D.

Saya mengucap syukur pada Tuhan atas kebaikanNya. Perjalanan (dan perjuangan) saya rupanya belum berakhir di tahap ini.

Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.

 

]]>
https://handywicaksono.web.id/2015/07/05/confirmed-or-not-confirmed/feed/ 2 418
Apakah aku “layak” untuk menjadi mahasiswa Ph.D.? https://handywicaksono.web.id/2015/01/01/apakah-aku-layak-untuk-menjadi-mahasiswa-ph-d/ https://handywicaksono.web.id/2015/01/01/apakah-aku-layak-untuk-menjadi-mahasiswa-ph-d/#comments Thu, 01 Jan 2015 06:59:13 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=404 Pertanyaan di atas sering kali “menghantui” saya dalam tahun pertama studi Ph.D. di UNSW Australia. Akibat latar belakang bidang yang berbeda, saya sering mendapati bahwa pengetahuan saya tentang suatu masalah terkadang lebih buruk dari pada mahasiswa undergraduate di kelas. Bahasa Inggris yang terbatas juga menjadi hambatan untuk berdiskusi dengan profesor ataupun mahasiswa lain. Perasaan minder dan terisolasi karena perbedaan budaya makin memperburuk kondisi ini.

negativePada fase tersebut pertanyaan – pertanyaan negatif (yang sejenis dengan judul di atas) sering muncul :

  • “Apakah aku akan bisa menyelesaikan studiku?”
  • “Apakah aku dapat “bersaing” dengan mahasiswa Ph.D. lainnya?”
  • “Apakah aku sedang menipu Profesorku dengan berpura – pura bahwa aku pandai dan kompeten?”

Intinya adalah saya meragukan kemampuan diri sendiri. Dan hal itu mengurangi semangat dan menyerap energi (yang seharusnya saya gunakan untuk belajar). Dalam masa – masa negatif ini, berikut beberapa hal yang membantu saya.

Berpikir rasional

Saat saya mulai berpikir negatif, berpikir rasional sangatlah membantu. Jika profesor saya memutuskan untuk menerima saya sebagai mahasiswa Ph.D., tentunya beliau percaya bahwa saya layak dan akan mampu menyelesaikan studi. Kemudian jika sampai sekarang saya masih mendapatkan approval dari profesor untuk progress report setiap semester, berarti performa saya masih acceptable dan cukup baik.

Bekerja keras dan membiarkan “waktu” yang membuktikan

Ada kalanya yang kita perlu lakukan hanyalah “membiarkan waktu yang membuktikan”. Maksudnya ialah kita perlu waktu untuk membuktikan pada diri sendiri (dan profesor) bahwa kita kompeten sebagai mahasiswa Ph.D. Saat saya menyelesaikan kuliah – kuliah saya (dengan beberapa tugas project yang cukup baik hasilnya), saya mulai merasa percaya diri (dan lega 🙂 ). Ternyata saya bisa. Saya percaya ke depan akan ada hasil – hasil positif lainnya, jika saya mau berusaha dan bekerja keras.

Merayakan (kembali) keberhasilan (di masa lalu)

Hal lain yang menolong ialah merayakan kembali pencapaian (dan keberhasilan) yang telah saya capai di masa lalu. Misalnya saat paper saya diterima di jurnal atau conference tertentu, saat buku pertama saya terbit, atau saat saya mendapatkan scholarship untuk mengikuti summer school beberapa bulan yang lalu. Bukti – bukti otentik tersebut dapat menguatkan kembali kepercayaan diri saya.

Memiliki growth mindset

Perasaan negatif biasanya muncul karena kita merasa kurang pandai, dan kita beranggapan bahwa kepandaian kita sudah mentok. Peter C. Brown (dkk.) dalam bukunya “Make It Stick” mengemukakan konsep “growth mindset”, yaitu cara pandang bahwa otak kita masih bisa bertumbuh dan berubah saat seseorang belajar hal – hal baru. Kepandaian seseorang bukanlah bawaan lahir semata, namun dapat dikembangkan (dalam batas tertentu) selama dia mau belajar.

Di saat kita gagal atau mengalami kesulitan dalam mempelajari sesuatu, kita bisa berpikir, “aku ini memang bodoh, makanya aku tidak bisa mengerti konsep ini”, atau alternatif lain, “konsep ini pasti bisa dimengerti, hanya saja aku belum cukup keras berusaha untuk memahaminya”. Kegagalan bisa kita anggap sebagai tanda kebodohan, atau sebagai petunjuk untuk menemukan solusi melalui cara yang lain.

Menyadari adanya impostor syndrome

Jika Anda pernah mempertanyakan di dalam hati, “apakah aku sedang berpura – pura bahwa aku pandai dan mampu di depan orang lain?”, “apakah aku sedang membohongi profesorku?”, mungkin Anda sedang mengalami impostor syndrome (impostor : penipu, menyamar). Syndrome ini biasanya dialami oleh orang – orang yang bersifat high achievers, dan dalam sebagian besar kasus, perasaan “menipu” tersebut tidak benar adanya.

Berikut ini saran dari Margie Warrel, seorang penulis, tentang tips untuk mengatasinya

  • Focus on the value you bring; not on attaining perfection
  • Own your successes. You didn’t get lucky by chance.
  • Cease comparisons. They’re an act violence against oneself.
  • Hold firm to ambition. Risk outright exposure!

Mengingat Tuhan dalam setiap usaha kita

Saat saya menuliskan pada kalimat – kalimat di atas “saya bisa …” atau “saya mampu …”, sebenarnya tidak demikian adanya. Ada tangan Tuhan yang menolong saya dalam setiap pengerjaan tugas dan permasalahan. Saat saya tidak mampu lagi berpikir dan belajar, Tuhan dengan murah hati membukaka jalan. Karenanya doa harus senantiasa menyertai setiap usaha keras kita. Saya layak menempuh studi Ph.D., karena Tuhan yang sudah membukakan jalan sedemikan rupa.

Tetap semangat!

Sumber :

  1. Peter C. Brown, et. al., “Make It Stick :  The Science of Successful Learning”, Belknap Press, 2014
  2. Margie Warrell, “Afraid Of Being ‘Found Out?’ How To Overcome Impostor Syndrome”, http://www.forbes.com/sites/margiewarrell/2014/04/03/impostor-syndrome/

  3. sumber gambar : https://www.victoria.ac.nz/news/2014/dealing-with-negative-thinking
]]>
https://handywicaksono.web.id/2015/01/01/apakah-aku-layak-untuk-menjadi-mahasiswa-ph-d/feed/ 6 404
Mencari topik disertasi = mengenal supervisor lebih dekat https://handywicaksono.web.id/2014/12/18/mencari-topik-disertasi-mengenal-supervisor-lebih-dekat/ https://handywicaksono.web.id/2014/12/18/mencari-topik-disertasi-mengenal-supervisor-lebih-dekat/#comments Thu, 18 Dec 2014 01:23:39 +0000 https://handywicaksono.wordpress.com/?p=394 Tantangan pertama yang harus dilalui mahasiswa Ph.D. ialah mencari topik penelitian untuk disertasinya. Untuk saya pribadi, pencarian topik ini membawa saya untuk “mengenal” profesor (supervisor) saya lebih dekat. Hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, namun sangat penting bagi mahasiswa Ph.D. Here is my story…

keep-calm-and-write-your-proposal-13

My first (and unused) research proposal

Semuanya dimulai saat saya mencari Profesor yang bidang minatnya sama dengan saya. Mimpi saya ialah melanjutkan penelitian saya saat studi S2 yang berkaitan dengan rescue robot dan reinforcement learning (atau machine learning secara umum). Proposal yang saya ajukan untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) juga berkisar di bidang tersebut.

Hal yang saya tidak sadari saat itu ialah sangat luasnya 2 bidang di atas, dan bidang penelitian pembimbing saya sebenarnya berada di spektrum yang agak berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Singkat cerita, proposal tersebut hampir sama sekali tidak saya gunakan dalam menyusun proposal Ph.D. sebenarnya.

Just follow my passion (is not always a good idea)

Di fase awal bimbingan, Profesor saya hanya mengarahkan untuk banyak membaca penelitian terbaru, sambil menyarankan beberapa nama peneliti yang layak dijadikan referensi. Pada fase ini saya dengan bersemangat membaca banyak paper yang menarik minat saya dan mencoba menemukan topik penelitian yang sesuai. Sebagian besar paper yang saya baca adalah tentang penerapan statistical learning dan robot control yang familiar dengan background ilmu saya saat S1 dan S2 dulu.

Di kemudian hari saya baru sadar bahwa saat itu sangat sedikit paper pembimbing yang saya baca dengan mendalam, karena penelitian beliau lebih banyak ke relational learning, logic, dan classical Artificial Intelligence, topik – topik yang asing dengan saya.

(Feels like) hitting the wall

6 bulan kemudian, saya merasa sangat sedikit kemajuan yang saya dapatkan. Saya membuat beberapa tulisan pendek yang berisi review dari paper – paper yang saya baca, namun profesor saya hanya memberikan komentar umum dan menunjukkan (secara tersirat) ketidakpuasan akan hasil belajar saya. Beliau juga memberikan masukan secara praktis tentang kelemahan – kelemahan dari metode yang coba saya ajukan. Bahkan beliau menyampaikan bahwa saya perlu menemukan “problem” yang tepat untuk diselesaikan sebelum mengajukan metode tertentu. Hal ini membuat saya bingung dan (sedikit) galau, karena sepertinya hal – hal yang saya pelajari selama ini tidak ada artinya.

Pada fase ini saya mulai memikirkan pentingnya peran pembimbing dalam studi saya. Jika saya mengajukan bidang yang berbeda dengan keahlian pembimbing, tentunya beliau tidak akan maksimal dalam membimbing saya. Saya juga tidak akan mendapatkan masukan terkait novelty dan contribution di suatu bidang ilmu yang bukan bidang keahlian beliau. Hal lain yang lebih berat ialah saat saya harus menulis disertasi, dimana disertasi ini akan dikirimkan ke external examiner yang sering kali ialah kolega – kolega profesor saya yang tentunya sebidang dengan beliau. Seperti ungkapan dosen di kelas metodologi penelitian saya, “mahasiswa Ph.D. ialah pembawa obor penelitian dari profesornya”.

“Witing tresno jalaran soko kulino” (jatuh cinta karena sudah terbiasa)

Akhirnya saya memutuskan untuk memulai semua dari “nol”. Saya lepaskan metode – metode “favorit” saya dan kembali mencari masalah untuk dipecahkan tanpa memikirkan metode yang akan saya pakai. Pada fase ini, saya kembali mendalami paper – paper dari pembimbing dan mahasiswa – mahasiswa beliau. Di sini saya mulai memikirkan bagaimana mensinkronkan ide – ide saya dengan bidang minat pembimbing.

Saat itu saya merasa khawatir jika topik yang saya ambil terlalu sulit dan tidak menarik minat saya (karena bidang yang memang berjauhan). Namun saat saya melihat ke belakang, saya mendapati berkali – kali saya “terpaksa” melakukan sesuatu yang pada awalnya tidak saya sukai. Saya tidak hobi elektronika saat SMP atau SMA, namun saya mengambil jurusan Teknik Elektro. Saya tidak tahu banyak tentang PLC, tapi saya memilih topik PLC untuk skripsi S1 saya. Saya tidak pernah “menyentuh” robot saat S1 namun mengambil topik robot untuk thesis S2. Dan semua pengalaman tadi berakhir dengan saya “jatuh cinta” pada bidang – bidang tersebut. Ada situasi – situasi di mana kita tidak bisa memilih, dan dengan pertolongan Tuhan, pada akhirnya kita akan bisa menyukai pilihan yang kita ambil tersebut.

Pada tahapan ini saya baru menyadari bahwa sebagian besar masukan profesor untuk saya sebenarnya tertulis di karya – karya ilmiahnya. Beliau tidak pernah menyampaikan, “baca paper saya dan lanjutkan ide saya”, karena itu akan membuat saya lebih “kerdil” dan tidak mandiri dalam meneliti. Dengan menemukan dan (berinisiatif) membaca sendiri, saya bisa memformulasikan ide dengan lebih bebas, namun masih dalam koridor penelitian yang sama dengan pembimbing. Akhirnya saya muncul dengan beberapa ide untuk menyelesaikan research problem, dan pembimbing memberi lampu hijau untuk meneruskan.

Towards the “real” proposal

Tahapan berikutnya ialah banyak membaca paper – paper untuk mendetailkan ide dan mengembangkannya hingga muncul kebaruan. Selain itu saya harus mempelajari tools terkait dan menerapkannya secara praktis. Hal lain yang harus saya lakukan ialah mulai menuliskan draft untuk research proposal saya. Untuk hal ini mahasiswa Ph.D. di fakultas Engineering – UNSW “dipaksa” menulis proposal dengan mengikuti kelas GSOE 9400 (Engineering Postgraduate Research Essentials).

Setelah perjalanan panjang yang saya bagikan di atas, proses penulisan draft menjadi lebih mudah, karena saya tahu apa yang diinginkan pembimbing dan saya sendiri (sedikit demi sedikit) mulai menyukai topik yang saya ajukan. Dengan bimbingan profesor, saya sempat menulis draft singkat penelitian untuk diajukan ke doctoral consortium sebuah conference. Meski pada akhirnya tidak diterima, namun saya semakin memahami arah penelitian yang akan saya lakukan plus (sedikit) mengenal gaya penulisan pembimbing saya.

===

Akhir cerita, sebenarnya proposal saya saat ini juga belum jadi 🙂 , baru akhir Februari tahun depan akan saya kumpulkan berbarengan dengan Annual Progress Review (semacam sidang proposal). Namun pengalaman setahun ini mengajarkan saya bahwa mencari topik penelitian untuk mahasiswa Ph.D. sama halnya dengan melewati perjalanan untuk “mengenal” profesor saya lebih dekat.

Bagaimana dengan Anda?

]]>
https://handywicaksono.web.id/2014/12/18/mencari-topik-disertasi-mengenal-supervisor-lebih-dekat/feed/ 1 394
Tantangan studi Ph.D. di luar negeri https://handywicaksono.web.id/2014/11/17/tantangan-studi-ph-d-di-australia/ https://handywicaksono.web.id/2014/11/17/tantangan-studi-ph-d-di-australia/#comments Mon, 17 Nov 2014 00:10:40 +0000 http://handywicaksono.wordpress.com/?p=373 Hari ini tepat 1 tahun saya menempuh studi Ph.D. di UNSW Australia. JIka pada beberapa posting sebelumnya saya menceritakan manfaat dan keuntungannya, posting kali ini akan membahas kesulitan tantangan yang saya hadapi saat menempuh studi di Australia. Berikut ini beberapa pengamatan subyektif saya (yang tentunya akan berbeda dengan orang lain).

phdLatar belakang jurusan, scientific background

Di UNSW saya mengambil jurusan Computer Science & Engineering, padahal S1 dan S2 saya dari jurusan Teknik Elektro, peminatan Teknik Sistem Pengaturan. Saya “berpindah” jurusan, karena di bidang riset saya tentang robotika, trend penelitian mengarah pada penerapan algoritma machine learning pada robot cerdas.

Mulanya saya berpikir, asal saya disiplin belajar mandiri, membaca buku dan mengikuti kuliah, pasti semuanya berjalan lancar. Kenyataannya tidak semudah itu. Perlu waktu yang cukup lama untuk memahami suatu bidang ilmu dengan mendalam. Juga perlu perubahan paradigma besar – besaran untuk menganalisa suatu masalah, jika selama belasan tahun saya melihat masalah dari suatu sisi, sekarang saya harus bisa melihatnya dari sisi yang lain.

Bagaimana untuk bisa memahami bidang ilmu yang baru? Kuncinya hanya satu. Belajar mandiri dengan keras. There is no shortcut. Studi lanjut di luar negeri tidak akan membuat kita pintar dengan sendirinya. Tidak akan ada Profesor (atau teman) yang akan dengan leluasa memberikan waktunya untuk kita untuk mengajari kita bidang ilmu tersebut. Saya menggunakan uang buku dari beasiswa Dikti untuk membeli literatur yang diperlukan (akhirnya uang buku 3 tahun habis di tahun pertama 🙂 ).

JIka demikian, apakah “pindah jurusan” sebaiknya tidak dilakukan? Jawabnya : belum tentu. Saat anda berpindah jurusan (yang tentunya masih segaris dalam konteks penelitian) dan bisa menguasai bidang ilmunya, anda akan memiliki pemahaman multi-disiplin! Hal ini akan sangat bermanfaat untuk memperkaya wawasan anda sebagai peneliti nantinya. So, decide it wisely.

Note : Hal ini tidak hanya dialami saat studi S3 di jurusan yang berbeda. Hampir semua mahasiswa Ph.D. akan mengalami kondisi “lack of knowledge” di beberapa bagian dari penelitiannya

Perasaan terisolasi – akademis

Ph.D. is a lonely journey“. Kalimat tersebut sering kali muncul di berbagai blog dan berita tentang studi Ph.D. Dan memang demikianlah adanya. Di antara banyak mahasiswa di kampus saya (bahkan mungkin di seluruh dunia), saya adalah satu – satunya orang yang perduli dengan topik penelitian saya secara spesifik. Profesor saya akan mengarahkan dan memberi masukan, namun beliau tidak akan mendalaminya seperti saya.

Natur studi Ph.D. inilah yang membuat mahasiswa Ph.D. sangat mudah merasa kesepian. Bahkan sekalipun anda memiliki banyak rekan di research group, teman – teman anda mungkin sekali tidak memahami dengan mendalam topik yang anda kerjakan. Jadi, bersiap – siaplah untuk merasa kesepian.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini ialah curiosity dan kecintaan yang mendalam akan topik riset anda. Ada orang yang menggambarkan peneliti ialah orang yang mempunyai burning question di dalam dirinya, dan orang itu tidak akan puas sebelum bisa menemukan jawabannya. Mungkin seperti itulah sikap mahasiswa Ph.D. seharusnya.

Perasaan terisolasi – non akademis

Selain secara akademis, sebagai mahasiswa asing kita juga akan mengalami perasaan terisolasi karena kita hidup di negara dengan bahasa, budaya, nilai – nilai, dan sistem yang berbeda dengan negara kita. Perlu waktu untuk feel at home dan terbiasa dengan semua hal baru tersebut. Keberadaan keluarga dan komunitas orang Indonesia akan sangat membantu anda melewati proses ini.

Budaya di suatu negara juga akan mempengaruhi bagaimana anda bekerja sama dengan  orang lain. Di jurusan saya misalnya, adalah hal yang wajar jika anda tidak mengenal semua orang yang berada di laboratorium yang sama (apalagi memahami topik penelitiannya). Padahal di indonesia, mungkin dalam waktu 1 minggu seorang mahasiswa baru akan mengenal semua penghuni laboratorium. Hal ini menurut saya terjadi karena budaya Australia yang lebih individualis dan fokus pada performa pribadi.

Hubungan dengan pembimbing

Hubungan dengan pembimbing ialah hal yang teramat penting bagi mahasiswa Ph.D. Saat anda menempuh studi S1 dan S2, anda hanya akan menghabiskan waktu 1 atau 2 semester dengan pembimbing anda. Sedang untuk studi S3 anda akan menghabisan 3 – 4 tahun dengan profesor anda. Bisa dibayangkan betapa beratnya jika hubungan dengan pembimbing tidak baik.

Di Australia, hubungan mahasiswa dengan dosen umumnya cukup cair. Mahasiswa biasa memanggil para dosen (sesenior apapun) dengan nama secara langsung. Tanpa tambahan “Pak” apalagi “Prof”. Namun demikian, bukan berarti mahasiswa boleh sembarangan. Profesor akan langsung menegur tanpa basa basi jika mahasiswa berbuat kesalahan.

Terkait dengan topik Ph.D., sangat penting bagi anda untuk menemukan profesor dengan topik yang benar – benar cocok dan anda sukai. Lebih baik sedari awal mencari profesor yang cocok dengan minat anda (dari kampus manapun), daripada anda memilih profesor terlebih dahulu dan “memaksakan” topik yang anda sukai pada profesor tersebut.

Ada beberapa alasan untuk itu. Yang pertama, mahasiswa Ph.D. ialah seperti “duta besar” bagi profesornya. Mahasiswa inilah yang akan membawa “tongkat estafet” penelitian dari profesor tersebut. Hal ini juga menguntungkan mahasiswa, karena dia bisa memanfaatkan nama besar (dan jaringan) profesornya di bidang tersebut. Jika anda mengusulkan judul sendiri yang berbeda dengan minat profesor, maka anda harus melakukan segala sesuatunya seorang diri. Selain itu, profesor kemungkinan merasa enggan (kurang bersemangat) karena membimbing bukan pada minat dan keahliannya.

Sebagaimana layaknya hubungan antara dua orang manusia biasa, tentunya selalu ada naik turun yang terjadi. Ada kalanya manis, tapi ada kalanya pahit dan berat. Mungkin inilah yang juga akan menempa kita sebagai manusia dewasa, bukan hanya sebagai mahasiswa. Saya pribadi belajar untuk tetap respect dan menjaga hubungan dengan profesor, meski beliau sering menegur saya dengan cukup keras (dan sakitnya tuh di sini 🙂 ).

Kendala bahasa

Kendala bahasa tentunya akan kita hadapi saat studi di luar negeri. Hal yang paling berat buat saya ialah menulis dalam bahasa Inggris dengan baik. Di Australia, tidak ada sidang lisan, sehingga examiner atau penguji hanya akan menerima tulisan (buku thesis) Ph.D. candidate. Jadi bisa dibayangkan apa akibatnya jika mereka menerima hasil tulisan yang kurang baik, dan tidak ada media lain untuk menjelaskan makna sebenarnya.

Saya pribadi merasa bahasa Inggris cukup baik, skor iBT lumayan, tapi tulisan saya banyak sekali dikoreksi oleh profesor saya karena salah atau kurang jelas. Beliau bahkan menyampaikan “your English is not good“, dst. Well, now I realize that my English is not as good as I think. Jadi tidak ada cara lain selain harus berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris secara akademis.

Sisi positifnya ialah dengan “dipaksa” untuk belajar menulis dengan baik, nantinya hal ini akan membantu saya saat harus melakukan publikasi ilmiah di jurnal internasional. Mungkin ini adalah investasi yang baik.

Note : profesor saya ialah orang Australia, beliau sangat senior dan menjadi editor untuk “Encyclopedia of Machine Learning”, jadi wajar saja kalau standar penulisan beliau tinggi 🙂

Adaptasi keluarga

Jika anda membawa keluarga, maka anda juga harus memastikan keluarga anda bisa beradapatasi dan “menikmati” kehidupan selama proses studi anda. Karena jika tidak, pada akhirnya studi anda juga akan terganggu. Untuk itu sangat baik jika pasangan (suami/istri) memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup sehingga nantinya bisa bersosialisasi dengan orang lain. Tempat tinggal yang layak, lokasi yang strategis (dekat tempat belanja, playground, sekolah, dll), dan hal – hal kecil lain harus dipertimbangkan. Saya akan menuliskan pengalaman di bagian ini pada posting yang lain.

Kecukupan finansial

Last but not least, kecukupan finansial sangat menunjang “ketenangan” anda selama studi. Jika anda masih single, tidak akan ada masalah dengan hal ini. Namun jika anda sudah menikah dan memiliki anak, anda harus menghitung baik – baik, apakah beasiswa yang anda terima cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga? Beberapa teman harus mengambil pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, yang tentunya mengambil energi mereka yang seharusnya digunakan untuk belajar. Tentunya semua orang akan mengambil keputusan sendiri, namun jangan sampai “mengorbankan” keluarga karena studi kita. They are much more precious than our Ph.D. degree.

Penutup

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca tulisan ini? Apakah masih ingin studi di luar negeri? Well, saya tidak ingin melemahkan semangat anda, namun saya ingin menyampaikan bahwa studi Ph.D. tidak cukup hanya berbekal “romantisme” belaka. Ini adalah petualangan hidup yang mendewasakan. Perlu semangat tinggi dan kerja keras. Lebih perlu lagi untuk berdoa dan berserah kepada Tuhan.

Bagaimana pendapat Anda?

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”

sumber gambar : http://chatwithrellypops.wordpress.com/2013/02/12/yes-there-is-life-after-phd/

Note : posting dengan topik serupa berikut (dari Thesis Whisperer blog) sangat cocok dan bermanfaat bagi international students

]]>
https://handywicaksono.web.id/2014/11/17/tantangan-studi-ph-d-di-australia/feed/ 6 373